digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Gea Akmaloka Susanto
PUBLIC yana mulyana

Rute administrasi obat secara oral merupakan rute yang paling populer karena kepraktisan penggunaannya. Obat yang diberikan secara oral harus terabsorpsi untuk memperoleh bioavailabilitas yang baik dalam tubuh. Proses disolusi suatu obat merupakan langkah pengontrolan laju dan derajat absorpsi. Apabila suatu obat memiliki sifat disolusi yang rendah, maka obat tersebut tidak akan terabsorpsi secara maksimal dalam saluran gastrointestinal dan nilai bioavailabilitasnya buruk. Salah satu upaya peningkatan laju disolusi obat dapat dilakukan dengan meningkatkan kelarutannya. Beberapa upaya meningkatkan kelarutan dan laju disolusi dari obat sukar larut dalam air telah dikembangkan, diantaranya pembentukan sistem dispersi padat, mikronisasi, dan pembentukan kompleks inklusi. Tujuan dari kajian pustaka ini adalah untuk menentukan metode mana yang paling baik di antara sistem dispersi padat, mikronisasi, dan kompleks inklusi dalam meningkatkan kelarutan dan laju disolusi obat sukar larut dalam air. Pustaka diperoleh dari hasil pencarian pada situs PubMed, NCBI, Science Direct, Elsevier dan Hindawi. Pustaka yang dikumpulkan memiliki kriteria inklusi yaitu literatur nasional ataupun internasional; Bahasa Indonesia atau Inggris; artikel original; memiliki DOI (Digital Object Identifier); dan menggu na ka n kata ku nci “solid dispersion”, “micronization”, “complex inclusion”, dan “dissolution rate”. Berdasarkan kajian pustaka, metode dispersi padat, mikronisasi, dan kompleks inklusi mampu meningkatkan laju disolusi obat secara signifikan. Dari 8 studi zat aktif yang dikaji, terdapat 5 zat aktif yang memberikan peningkatan laju disolusi paling baik menggunakan metode pembentukan kompleks inklusi yaitu naproksen, indometasin, glimepirid, norfloksasin, dan celecoxib. Sementara itu, 3 zat akif menggunakan metode pembentukan dispersi padat memberikan peningkatan laju disolusi paling baik diantaranya kuersetin, telmisartan, dan ibuprofen.