digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Yahya Haytsam
Terbatas Yoninur Almira
» ITB

BAB 1 Yahya Haytsam
Terbatas Yoninur Almira
» ITB

BAB 2 Yahya Haytsam
Terbatas Yoninur Almira
» ITB

BAB 3 Yahya Haytsam
Terbatas Yoninur Almira
» ITB

BAB 4 Yahya Haytsam
Terbatas Yoninur Almira
» ITB

BAB 5 Yahya Haytsam
Terbatas Yoninur Almira
» ITB

PUSTAKA Yahya Haytsam
Terbatas Yoninur Almira
» ITB

2021 TA PP YAHYA HAYTSAM_LAMPIRAN.pdf]
Terbatas Yoninur Almira
» ITB

Pembangunan rel kereta cepat Jakarta-Bandung yang membentang sepanjang 142,3 km akan mempengaruhi pola tutupan lahan wilayah. Koridor perkotaan JakartaBandung yang merupakan wilayah dengan petak-petak perkotaan yang terhubung oleh bundel jejaring infrastruktur transportasi dan memiliki bentuk yang linier akan menjadi salah satu objek pengaruh utama dari keberadaan infrastruktur kereta cepat. Dari situ muncul pertanyaan bagaimana interaksi antara infrastruktur transportasi berskala besar dengan perkembangan bentuk dan struktur koridor perkotaan, yang ia sendirinya merupakan permasalahan yang kompleks oleh karena dimensinya yang luas; mencakup politik, ekonomi, sosial, geografi, serta perencanaan dan administrasi perkotaan. Maka, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kereta cepat terhadap perkembangan bentuk dan struktur koridor perkotaan Jakarta-Bandung. Penelitian ini akan dilakukan dengan cara melakukan dua pemodelan dari wilayah koridor perkotaan Jakarta-Bandung dalam waktu dua puluh tahun ke depan, yang mana kasus pertama mensimulasikan koridor perkotaan Jakarta-Bandung jika kereta cepat tidak dibangun dan kasus kedua mensimulasikan koridor perkotaan Jakarta-Bandung jika kereta cepat dibangun, sehingga infrastruktur kereta cepat akan menjadi variabel pembeda. Metodologi penelitian ini akan menggunakan teknik pemodelan cellular automata yang merupakan pemodelan berbasis sel/piksel. Data berupa gambar citra satelit serta shapefile infrastruktur diolah dengan ArcGIS dan kemudian dimodelkan dan disimulasi dengan QGIS berplugin MOLUSCE. Berlanjut dari pemodelan dan simulasi, kedua model akan dianalisis secara spasial dengan ArcGIS untuk dikomparasi berdasarkan tiga komponen koridor perkotaan — struktur, kelinieran, dan keterhubungan — untuk mengetahui perbedaan perkembangan bentuk dan struktur koridor perkotaannya. Dari sana, pengaruh kereta cepat terhadap perkembangan bentuk dan struktur koridor perkotaan dapat diidentifikasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa infrastruktur kereta cepat mentransformasi koridor perkotaan Jakarta-Bandung ke tahap rapid transit dan metropolitanisme, menjaga bentuk kelinieran koridor, serta mendorong proses urbanisasi di sepanjang garis tengah koridor. Disrupsi perkembanngan koridor perkotaan Jakarta-Bandung ini perlu dikendalikan pertumbuhannya, baik pada tingkatan kota dan kabupaten, maupun pada tingkatan provinsi dan nasional oleh pemerintah dan perencana.