digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Teguh Asandy
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

BAB 1 Teguh Asandy
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

BAB 2 Teguh Asandy
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

BAB 3 Teguh Asandy
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

BAB 4 Teguh Asandy
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

BAB 5 Teguh Asandy
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

BAB 6 Teguh Asandy
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

PUSTAKA Teguh Asandy
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira


2021 TS PP TEGUH ASANDY_JURNAL.pdf ]
Terbatas Yoninur Almira
» ITB

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. Indonesia memiliki 17.504 pulau dengan luas perairan laut 6,4 juta km². Potensi kelautan ini menghasilkan PDB Perikanan pada tahun 2014 tumbuh sebesar 6,97 persen. Angka tersebut lebih tinggi dari pertumbuhan PDB nasional yang besarnya 5,1 persen. Salah satu wilayah yang memiliki potensi perikanan di Indonesia yaitu Kabupaten Natuna. Kegiatan perikanan di Kabupaten Natuna didominasi oleh usaha penangkapan ikan. Pada tahun 2015, produksi perikanan tangkap mencapai 48.698,84 ton dengan pertumbuhan produksi perikanan tangkap tahun 2015 terhadap 2014 mencapai 2,87 persen. Potensi kelautan dan perikanan yang besar yang dimiliki oleh Natuna dapat dianalisis lebih lanjut melalui konsep penghidupan berkelanjutan yang dikemukakan oleh World Commision on Environment and Development (WCED) sebagai konsep yang terintegrasi dengan definisi yaitu persediaan dan aliran makanan dan uang yang cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar, dalam hal ini dapat dikaitkan dengan penghidupan berkelanjutan nelayan lokal. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kondisi Penghidupan Berkelanjutan (PB) sektor perikanan dalam konteks pengembangan wilayah perdesaan pesisir di Kabupaten Natuna. Lokasi penelitian akan berfokus pada nelayan lokal yang ada di Desa Sabang Mawang, Desa Sabang Mawang Barat, dan Desa Tanjung Batang yang ada di Kecamatan Pulau Tiga. Metode pengambilan data primer menggunakan wawancara, observasi, dan kuesioner penunjang yang dinilai berdasarkan kualitatif dengan penentuan narasumber menggunakan purposive sampling. Analisis data menggunakan analisis deskriptif kualitatif dengan kerangka penghidupan berkelanjutan dan analisis pemangku kepentingan. Berdasarkan analisis yang dilakukan, dapat dilihat bahwa terdapat terdapat modal lokal yang masih membutuhkan peningkatan penghidupan berkelanjutan, yaitu Desa Sabang Mawang yang belum berkelanjutan pada modal finansial sehingga membutuhkan dorongan yang lebih besar dari pihak lain atau eksternal. Desa Sabang Mawang juga membutuhkan peningkatan keberlanjutan pada modal sosial. Desa TanjungBatang juga membutuhkan peningkatan pada modal alam, modal sosial, dan modal finansial agar dapat berkelanjutan dalam konteks kenelayanan. Sedangkan untuk Desa Sabang Mawang Barat, perlu melakukan peningkatan pada modal sosial yang lebih rendah dibandingkan dua desa lainnya. Pada kerentanan, terdapat musim angin yang berada pada periode Bulan November sampai Januari (Musim utara) dan Bulan Mei sampai Juli (Musim selatan), terdapat ketidakpastian harga khususnya masih adanya monopoli oleh pengumpul besar, dan peluang kerja yang terbatas pada saat terjadinya musim angin. Selanjutnya, terdapat tren demografi yaitu tren preferensi menjadi nelayan di masa depan yang menurun, tren pertumbuhan gender yang mempengaruhi profesi nelayan, dan tren ekologis yaitu tren hasil perikanan yang terus menurun. Pada konteks kebijakan dan institusi lokal, terdapat empat jenis aktor yang telah diidentifikasi menurut teori pemangku kepentingan, yaitu key players (Kementerian Kelautan dan Perikanan, Pemerintah Desa, Pengumpul Besar, dan Pengumpul Lokal), context setter (Kecamatan Pulau Tiga), subject (Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kepulauan Riau, Dinas Perikanan Natuna, dan SKPT/Perindo), dan crowd (Koperasi dan Penyedia BBM).