digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Theresia Dwiriani R
PUBLIC Alice Diniarti

Tantangan dalam kerusakan aset jalan adalah terkait dengan beban berlebih, iklim, suhu tinggi, dan kondisi tanah dasar yang lunak. Anggaran yang terbatas juga menjadi isu dalam program pemeliharaan jalan. Untuk mengatasi hal ini dibutuhkan pendekatan dalam perencanaan tebal lapis tambah (overlay) pada struktur perkerasan lentur menggunakan metode AASHTO 1993 dan metode mekanistikempiris MDP 2017 dengan software KENPAVE demi mencegah kerusakan struktur perkerasan lentur sebelum umur rencana, serta melakukan program pemeliharaan jalan agar dapat mengontrol anggaran yang akan dikeluarkan saat melakukan penanganan overlay. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kebutuhan tebal overlay yang selanjutnya dilakukan pengembangan 3 skenario pemeliharaan jalan untuk kedua metode. Berdasarkan metode AASHTO 1993, hasil analisis lendutan FWD di ruas jalan Cirebon–Batas Kabupaten Kuningan dengan panjang jalan 12,16 km menghasilkan faktor keseragaman (FK) 34,35%, sehingga perlu dilakukan segmentasi yang dibagi menjadi 5 segmen agar mencapai keseragaman. Kemudian, nilai lendutan wakil (dwakil) pada setiap segmen digunakan dalam perhitungan back calculation untuk mengetahui nilai modulus resilien (MR) tanah dasar dan modulus efektif perkerasan (Ep) struktur perkerasan eksisting. Data LHR menghasilkan pertumbuhan lalu lintas rata-rata pada tahun 2015-2017 = 4,47% sepanjang umur rencana 10 tahun, dan perhitungan CESAL menggunakan nilai VDF MDP 2017 = 42.706.076 ESAL. Dengan menggunakan metode mekanistik-empiris MDP 2017, digunakan data LHR tahun 2022 = 44.657 kendaraan dengan persentase HV = 6,79% dengan umur rencana 10 tahun, dan rata-rata beban gandar kendaraan berat (NHVAG = 2,8) menghasilkan desain lalu lintas (NDT) sebesar 19.025.192 ESA/HVAG. Nilai NDT dikalikan dengan nilai Traffic Multiplier (TM) sebagai koreksi terhadap kerusakan fatigue cracking (TM = 1,1) menghasilkan repetisi beban = 20.927.711 SAR5/ESA dan kerusakan permanent deformation (TM = 1,6) menghasilkan repetisi beban = 30.440.307 SAR7/ESA. Hasil perhitungan tebal overlay yang paling tebal menggunakan metode AASHTO 1993 adalah Segmen 2 untuk Skenario 1: penanganan full overlay = 18 cm; Skenario 2: penanganan overlay bertahap 5 cm per tahun = 20 cm; dan Skenario 3: jika anggaran terbatas = 15 cm. Hal ini disebabkan karena nilai modulus resilien (MR) tanah dasar pada Segmen 2 rendah daripada keempat segmen yang lain. Hasil perhitungan tebal overlay yang paling tebal menggunakan metode mekanistik-empiris MDP 2017 yaitu pada Segmen 3 untuk Skenario 1: penanganan full overlay = 27 cm; Skenario 2: penanganan overlay bertahap 5 cm per tahun = 10 cm; dan Skenario 3: jika anggaran terbatas = 9 cm. Hal ini disebabkan karena modulus kekakuan campuran beraspal yang rendah pada Segmen 3 dari pada keempat segmen yang lain. Kebutuhan biaya pemeliharaan jalan paling tinggi berdasarkan metode AASHTO 1993 yaitu pada Skenario 2 dan biaya paling rendah pada Skenario 1. Berdasarkan metode mekanistik-empiris MDP 2017, biaya paling rendah pada Skenario 3 dan biaya paling tinggi pada Skenario 1.