Article Details

KULTIVASI LARVA LALAT TENTARA HITAM (HERMETIA ILLUCENS L.) DENGAN AMPAS KELAPA DAN AMPAS TAHU MENGGUNAKAN SARANG LALAT MODULAR

Oleh   Marcelino Putra Perdana [11216021]
Kontributor / Dosen Pembimbing : Ramadhani Eka Putra, S.Si., M.Si., Ph.D.;Dr. Muhammad Yusuf Abduh, M.T.;
Jenis Koleksi : S1-Tugas Akhir
Penerbit : SITH - Rekayasa Hayati
Fakultas : Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH)
Subjek :
Kata Kunci : Ampas kelapa, ampas tahu, Hermetia illucens L., laju aerasi, Sarang Lalat Modular
Sumber :
Staf Input/Edit : Resti Andriani  
File : 7 file
Tanggal Input : 08 Apr 2022

Generic placeholder image
BAB 1 Marcelino Putra Perdana

Terbatas
» Gedung UPT Perpustakaan

Generic placeholder image
BAB 2 Marcelino Putra Perdana

Terbatas
» Gedung UPT Perpustakaan

Generic placeholder image
BAB 3 Marcelino Putra Perdana

Terbatas
» Gedung UPT Perpustakaan

Generic placeholder image
BAB 4 Marcelino Putra Perdana

Terbatas
» Gedung UPT Perpustakaan

Generic placeholder image
BAB 5 Marcelino Putra Perdana

Terbatas
» Gedung UPT Perpustakaan

Generic placeholder image
PUSTAKA Marcelino Putra Perdana

Terbatas
» Gedung UPT Perpustakaan


Larva lalat tentara hitam merupakan jenis larva serangga yang banyak dikultivasi sebagai agen remediasi limbah organik. Larva tersebut diketahui memiliki sensitivitas yang tinggi terhadap perubahan faktor lingkungannya, salah satunya laju aerasi. Oleh karena itu, dirancang sebuah sistem yang dinamakan Sarang Lalat Modular yang dilengkapi dengan sistem instrumentasi untuk mengoptimalkan pertumbuhan larva. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh laju aerasi terhadap pertumbuhan, perolehan, dan produktivitas larva, nilai efisiensi asimilasi, efisiensi biokonversi substrat, indeks pengurangan limbah, serta komposisi nutrisi dari biomassa larva yang dihasilkan. Perlakuan laju aerasi divariasikan sebesar 0– 32 m3/s. Kultivasi dilakukan menggunakan substrat campuran ampas kelapa dan ampas tahu (1:1) pada Sarang Lalat Modular selama 27–30 hari dengan rentang temperatur 20,99–38,93°C, kelembaban udara 37,45–93,54%, dan intensitas cahaya 3,90–25.469,02 lux. Kondisi lingkungan kultivasi diakusisi oleh sensor dan tersimpan dalam Raspberry Pi secara real-time menggunakan bahasa pemrograman Arduino dan Python. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dengan adanya perlakuan laju aerasi 32 m3/s dapat mengoptimalkan pertumbuhan berat basah dan panjang larva cukup signifikan secara statistik (p < 0,05) dengan nilai laju pertumbuhan secara berturut-turut sebesar 2,16±0,0889 mg/larva/hari dan 0,61±0,0036 mm/hari. Pemberian perlakuan laju aerasi 32 m3/s juga dapat meningkatkan produktivitas biomassa kering larva hingga mencapai 45,61±3.6893 g/m2.hari. Larva yang dikultivasi pada laju aerasi 32 m3/s menunjukkan kecernaan substrat limbah organik yang paling optimum dengan nilai efisiensi asimilasi, efisiensi biokonversi substrat, dan indeks pengurangan limbah secara berturut-turut sebesar 47,33±0,5054%, 24,20±1,9824%, dan 1,75±0,0187, walaupun pengaruhnya kurang signifikan berdasarkan uji statistik (p > 0,05) terhadap kecernaan substrat oleh larva. Berdasarkan hasil uji proksimat, biomassa larva memiliki kadar protein, lemak, abu, pati, dan serat secara berturut-turut sebesar 6,38%, 32,28%, 4,25%, 4,15%, dan 19,36%. Kandungan asam amino esensial dalam biomassa larva LTH didominasi oleh leusin (8,24%), lisin (7,32%), dan valin (6,85%). Lipid yang dihasilkan dari biomassa larva LTH tersebut juga mengandung asam lemak yang terdiri dari asam laurat (61,68%), asam miristat (8,91%), dan asam linoleat (8,53%).