Artikel Terbaru

KOMBINASI FIBROIN DAN SPIDROIN DALAM SCAFFOLD THIN FILM UNTUK MENUMBUHKAN HUMAN DERMAL FIBROBLAST, SATU UPAYA DALAM REKAYASA JARINGAN KULIT

Oleh   Safira Meidina Nursatya [21118018]
Kontributor / Dosen Pembimbing : Dr. Anggraini Barlian, M.Sc.;
Jenis Koleksi : S2 - Tesis
Penerbit : SITH - Bioteknologi
Fakultas : Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH)
Subjek :
Kata Kunci : Argiope appensa, rekayasa jaringan kulit, Fibroblast
Sumber :
Staf Input/Edit : Alice Diniarti  
File : 1 file
Tanggal Input : 2021-04-26 21:34:43

Penderita luka bakar parah memerlukan cangkok kulit, namun ketersediaan donor kulit yang tersedia sangat terbatas. Rekayasa jaringan dapat dijadikan solusi untuk mengatasi defisit organ tersebut. Dalam rekayasa jaringan dibutuhkan scaffold, yaitu material penyokong selama proses regenerasi sel atau jaringan. Pada rekayasa jaringan kulit, sumber sel yang biasanya digunakan adalah sel fibroblast dermis. Beberapa penelitian dalam pembuatan biomaterial untuk scaffold, menggunakan sutera dari spidroin dan fibroin karena sutera tidak menimbulkan respon imun, non toksik dan bersifat biocompatible serta biodegradable. Hingga saat ini belum ada penelitian untuk rekayasa jaringan kulit yang menggunakan spidroin dari jaring laba-laba Argiope appensa sebagai bahan baku scaffold. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik scaffold, berbahan baku fibroin dari kepompong Bombyx mori dan spidroin dari jaring laba-laba Argiope appensa terhadap penempelan dan proliferasi sel fibroblas dermis manusia (Human Dermal Fibroblast, HDF) pada scaffold. Pada penelitian ini, scaffold thin film dibuat dengan teknik solvent casting dengan pelarut asam format dan penambahan PVA (Polivinil Alkohol) dan gliserol, dengan enam kombinasi fibroin dan spidroin yaitu 80% fibroin dan 0% spidroin, 78% fibroin dan 2% spidroin, 76% fibroin dan 4% spidroin, 74% fibroin dan 6% spidroin, 72% fibroin dan 8% spidroin, 70% fibroin dan 10% spidroin dengan penambahan 10% PVA dan 10% gliserol di setiap kombinasi scaffold thin film. Karakterisasi material scaffold thin film yang dilakukan pada penelitian ini yaitu ATR-FTIR (Attenuated Total Reflectance-Fourier Transform Infrared) spectroscopy, sudut kontak, uji penyerapan air, sifat mekanis, dan uji biodegradasi. Selain karakterisasi material, dilakukan juga MTT (Microtetrazolium) serta analisis menggunakan SEM (Scanning Electron Microscope). Hasil karakterisasi ATR-FTIR membuktikan bahwa terdapat empat komponen pada scaffold thin film (fibroin, spidroin, PVA dan gliserol). Sudut kontak dan uji penyerapan air, menunjukkan bahwa dari semua kombinasi scaffold thin film yang telah dibuat diketahui bahwa semua sampel bersifat hidrofilik, sampel 70% fibroin dan 10% spidroin diketahui paling hidrofilik, dikarenakan nilai sudut kontak paling rendah dan nilai uji penyerapan air paling tinggi dibandingkan kombinasi lainnya. Pada uji sifat mekanis dan uji biodegradasi tidak ditemukan perbedaan signifikan antara kombinasi scaffold thin film. Berdasarkan uji MTT yang dilakukan selama 5 hari, diketahui bahwa setiap kombinasi scaffold thin film dapat memfasilitasi penempelan fibroblast dan meningkatkan pertumbuhan sel dari hari ke 1, 3 dan 5. Berdasarkan hasil uji MTT diketahui juga bahwa sampel 70% fibroin dan 10% spidroin memiliki nilai absorbansi yang paling tinggi, yang mengindikasikan paling tinggi pula viabilitas selnya. Hasil SEM yang dilakukan pada penelitian ini menunjukkan bahwa sel yang tumbuh di atas scaffold thin film 70% fibroin dan 10% spidroin memiliki morfologi sel yang paling baik, sel dapat menempel dan spreading dengan filopodia yang jelas dan panjang dibandingkan dengan sel yang tumbuh di atas kombinasi scaffold thin film lainnya. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa scaffold thin film dengan kombinasi 70% fibroin dan 10% spidroin adalah kombinasi terbaik yang dapat dijadikan sebagai scaffold thin film untuk mendukung penempelan dan proliferasi sel HDF dan berpotensi dalam rekayasa jaringan kulit.