digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

COVER Freddy Tjahyadi
PUBLIC Alice Diniarti

BAB 1 Freddy Tjahyadi
PUBLIC Alice Diniarti

BAB 2A Freddy Tjahyadi
PUBLIC Alice Diniarti

BAB 2B Freddy Tjahyadi
PUBLIC Alice Diniarti

BAB 2C Freddy Tjahyadi
PUBLIC Alice Diniarti

BAB 2D Freddy Tjahyadi
PUBLIC Alice Diniarti

BAB 3A Freddy Tjahyadi
PUBLIC Alice Diniarti

BAB 3B Freddy Tjahyadi
PUBLIC Alice Diniarti

BAB 3C Freddy Tjahyadi
PUBLIC Alice Diniarti

BAB 3D Freddy Tjahyadi
PUBLIC Alice Diniarti

BAB 4A Freddy Tjahyadi
PUBLIC Alice Diniarti

BAB 4B Freddy Tjahyadi
PUBLIC Alice Diniarti

BAB 4C Freddy Tjahyadi
PUBLIC Alice Diniarti

BAB 5 Freddy Tjahyadi
PUBLIC Alice Diniarti

BAB 6 Freddy Tjahyadi
PUBLIC Alice Diniarti

DAFTAR Freddy Tjahyadi
PUBLIC Alice Diniarti

Ekonomi kreatif menjadi gelombang ekonomi yang diprediksikan akan menguasai gelombang ekonomi dunia di masa depan (Alvin Toffler, 1980), dimana perkembangan ekonomi bergantung pada ide dan gagasan kreatif. Perkembangan ekonomi kreatif, tidak terlepas dari peran ekspor hasil karya pelaku kreatif ke manca negara. Berdasarkan data Badan Ekonomi Kreatif dan Badan Pusat Statistik 2016, sepertiga dari hasil ekspor (33,56%) bersumber dari Jawa Barat. Hal ini menggambarkan keberadaan dan dominasi pelaku industri kreatif di Jawa Barat yang melebihi jumlah pelaku kreatif di propinsi lainnya Kota Bandung merupakan salah satu kota yang dicanangkan sebagai Kota Kreatif oleh pemerintah. Hal ini juga didukung oleh banyaknya kekuatan kreativitas di Kota Bandung, yang bahkan terpilih menjadi pilot project kota kreatif se-Asia Pasifik. Hal ini juga didukung oleh kehadiran dari pelaku kreatif Bandung yang memiliki karakter unik yang dibawa dari budayanya. Karakter hade ka semah menciptakan masyarakat Sunda sangat adaptif dan berpikiran terbuka terhadap gagasan dari luar (Hermawati, 2015). Keunikan karakter inilah yang menciptakan pelaku kreatif yang dapat berkembang dengan sangat pesat. Namun, keberadaan fasilitas yang dapat mengakomodasi kebutuhan akan ruang yang dapat menstimulasi kreativitas masih sangat minim di Bandung. Kehadiran rumah kreativitas dengan ruang berkumpul pelaku kreatif menjadi suatu praktek yang efektif dalam memasarkan produk industri kreatif dalam membentuk positioning dalam memberi citra baik kepada pasar (Rufaidah, 2015). Permasalahan ini seringkali menghambat kreativitas dari pelaku kreatif di Bandung untuk terus berkreasi dan mengembangkan usaha mereka. Pelaku kreatif mengalami kesulitan untuk mencari tempat yang nyaman untuk mereka mengeluarkan ide kreatif dan berekspresi dengan bereksperimen dari ide kreatif tersebut. Padahal sebagai pelaku kreatif, mereka sangat memerlukan ruang yang nyaman yang dapat memberikan makna pada sebuah tempat menjadi place dan juga berbagai fasilitas yang fleksibel yang dapat memfasilitasi kebutuhan mereka yang dinamis akan ruang untuk menciptakan kenyamanan pelaku kreatif dalam bekerja dan menghasilkan berbagai inovasi kreatif. ii Oleh karena itu, perancangan rumah kreativitas ini dilakukan sebagai cara untuk memfasilitasi pelaku kreatif Bandung dengan ruang yang dapat mengakomodasi kedinamisan perilaku pelaku kreatif dengan fleksibilitas dan menciptakan makna pada sebuah place. Kedua hal ini diberikan kepada pelaku kreatif untuk memberikan kenyamanan bagi mereka dalam meperoleh dan mengeluarkan gagasan kreatif secara bebas, efektif, dan efisien tanpa adanya hambatan. Kenyamanan dalam berkarya pun akan mendatangkan berbagai pelaku kreatif ke dalam rancangan dan membentuk lahirnya berbagai komunitas. Pembentukan komunitas dalam sebuah ruang yang nyaman untuk berkreasi kreatif kemudian melahirkan kolaborasi diantara pelaku kreatif. Kolaborasi yang terjadi pun turut membangun perkembangan pelaku kreatif khususnya di Bandung. Sehingga pada akhirnya akan turut membentuk dan mengembangkan ekosistem kreativitas pelaku kreatif dalam berkarya kreatif. Untuk menghasilkan ruang yang mampu untuk memfasilitas kreativitas dari pelaku kreatif, maka diperlukan ruang yang sangat fleksibel dan juga memiliki kedekatan dengan pelaku kreatif. Hal ini dibentuk melalui berbagai suasana ruang yang kreatif. Suasana kreatif juga dibentuk dari bentukan massa yang dinamis sebagai bentuk ruang bagi pelaku kreatif untuk berkarya. Bentukan fasade, dan warna yang diberikan pada rancangan juga turut berperan penting dalam membentuk suasana yang kreatif bagi pelaku kreatif. Ruang kreatif pun dibentuk dengan menghadirkan aktivitas-aktivitas kreatif yang tersebar di setiap sisi bangunan secara fleksibel sehingga membentuk suasana kreatif. Kegiatan kreatif yang tersebar juga difasilitas dengan ruang yang fleksibel dimana tidak ada batasan yang rigid untuk beraktivitas di dalam bangunan. Pelaku kreatif Bandung yang memiliki karakter yang sangat dinamis dapat mengekspresikan diri tanpa adanya batasan. Berbagai ruang pada banguna dirancang untuk dapat dibuka dan ditutup secara fleksibel untuk berbagai kegiatan. Hal inilah yang juga turut ambil bagian dalam menghasilkan ruang yang fleksibel bagi pelaku kreatif berekspresi. Kehadiran hasil rancangan “Bandung Collaborative Cloud”hadir sebagai identitas dari pelaku kreatif Bandung. Kehadirannya menjadi ikon dari karakter pelaku kreatif Bandung. Kehadirannya di tengah ruang kota yang telah semakin ditinggalkan pun menjadi bagian dari pembentukan suasana kreatif dan menghidupkannya kembali menjadi daya tarik pelaku kreatif maupun masyarakat umum.