Article Details

PERANCANGAN SISTEM PENGUKURAN KINERJA TERINTEGRASI UNTUK MENGELOLA KONFLIK SASARAN DAN MENYELARASKAN SISTEM TRANSPORTASI LOGISTIK

Oleh   Dian Prama Irfani [39017007]
Kontributor / Dosen Pembimbing : Dr.Eng. Mursyid Hasan Basri, S.T., M.T.;Prof. Dr. Ir. Dermawan Wibisono, M.Eng.;
Jenis Koleksi : S3-Disertasi
Penerbit : SBM - Sains Manajemen
Fakultas : Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM)
Subjek :
Kata Kunci : Pengukuran kinerja, kinerja logistik, peran ganda, system dynamics, peningkatan kinerja.
Sumber :
Staf Input/Edit : Taupik Abidin  
File : 1 file
Tanggal Input : 2019-05-03 08:22:15

Generic placeholder image
ABSTRAK Dian Prama Irfani


Perusahaan yang memiliki peran ganda sebagai penghasil keuntungan dan penyedia layanan publik memiliki karakteristik yang berbeda dengan perusahaan yang hanya memiliki peran tunggal. Meskipun demikian, hasil studi literatur menunjukkan bahwa saat ini tidak terdapat kerangka kerja sistem pengelolaan kinerja yang sesuai dengan karakteristik dari perusahaan jenis tersebut. Berdasarkan hal itu, penelitian ini bertujuan untuk membangun suatu kerangka kerja yang baru untuk mengelola kinerja dari sistem logistik yang ada di perusahaan yang memiliki peran ganda. Kerangka kerja dibangun dengan mengkombinasikan pendekatan studi literatur dan studi kasus di perusahaan yang memiliki peran ganda. Studi literatur dilakukan untuk mengidentifikasi konsep, atribut kinerja, dan indikator yang ada di beberapa kerangka kerja yang telah ada. Studi kasus dilakukan untuk mengidentifikasi karakteristik unik dari perusahaan yang memiliki peran ganda, faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja, dan kriteria kerangka kerja yang sesuai untuk diterapkan di perusahaan tersebut. Pada kerangka kerja yang diusulkan, metode statistik seperti analisis nilai rata-rata, perangkingan, analisis covariance, dan Cronbach’s Alpha digunakan untuk menilai tingkat keselarasan antara kerangka kerja yang diterapkan dengan strategi di organisasi serta untuk memilih indikator yang sesuai. Sementara itu, metode Multi Criteria Decision Making (MCDM) seperti Decision Making Trial and Evaluation Laboratory (DEMATEL), Analytical Network Process (ANP), Analytical Hierarchy Process (AHP) , dan System Dynamics digunakan untuk mengelola konflik kinerja yang umum ditemukan di perusahaan yang memiliki peran ganda. Untuk memvalidasi kerangka kinerja yang dibangun, kerangka kerja tersebut diaplikasikan pada suatu sistem transportasi logistik di Company A sebagai suatu perusahaan yang memiliki peran ganda. Data dikumpulkan dengan cara mendistribusikan kuesioner dan melakukan wawancara ke beberapa pengambil keputusan pada divisi-divisi yang terkait dangan sistem transportasi logistik. Hasil dari penelitian berhasil mengisi gap teori pada bidang sistem manajemen kinerja. Yang pertama, penelitian berhasil menjelaskan karakteristik unik dari perusahaan yang memiliki peran ganda, yaitu perusahaan tersebut sering dihadapkan pada sasaran kinerja finansial dan sosial yang saling bertolak belakang, lingkungan bisnis yang berubah-ubah, kesulitan untuk menerjemahkan tujuan yang bersifat samar dan kompleks, dan inkonsistensi pada metode evaluasi kinerja. Yang kedua, penelitian ini berhasil mengidentifikasi beberapa indikator kinerja utama yang potensial digunakan pada sistem logistik di perusahaan yang memiliki peran ganda, yaitu kinerja finansial, kinerja sosial, pemenuhan ekspektasi pemangku kepentingan, kehandalan layanan logistik, iv responsivitas, fleksibilitas, tingkat efisiensi biaya, dan tingkat efisiensi pengelolaan asset. Yang ketiga, penelitian berhasil mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja sistem logistik yang ada di perusahaan dengan peran ganda, yaitu aspek berbagi informasi, kolaborasi, dukungan manajemen, dukungan infrastruktur, dan dukungan kemampuan. Yang keempat, penelitian berhasil merumuskan kriteria sistem manajemen kinerja yang sesuai diterapkan di perusahaan yang memiliki peran ganda, yaitu penyediaan fungsionalitas untuk menyelaraskan strategi organisasi dengan strategi sistem logistik, fungsionalitas untuk memilih indikator kinerja yang seimbang, fungsionalitas untuk menentukan target kinerja dan benchmarking, fungsionalitas untuk memodelkan hubungan sebab akibat antar indikator kinerja, fungsionalitas untuk mengelola konflik kinerja, fungsionalitas untuk mengelola masalah dinamisme lingkungan bisnis, dan fungsionalitas untuk mengelola peningkatan kinerja sistem. Yang kelima, penelitian ini menghasilkan satu kerangka kerja baru yang mencakup delapan fase pengelolaan kinerja berupa analisis lingkungan eksternal, analisis internal sistem, analisis sistem pengelolaan kinerja eksisting, pengelolaan indikator dan target kinerja, pengelolaan konflik kinerja jangka pendek dan menengah, pengelolaan konflik kinerja jangka panjang, implementasi evaluasi kinerja, dan peningkatan kinerja. Hasil implementasi dari kerangka kerja yang dibangun menunjukkan bahwa kerangka kerja dapat dimanfaatkan untuk memilih ukuran dan target kinerja yang sesuai dengan konteks Company A, memodelkan hubungan sebab akibat antara beberapa variabel, membangun indeks kinerja logistik global untuk mengelola konflik kinerja jangka pendek, membangun model system dynamics untuk mengelola konflik kinerja dan merumuskan rencana peningkatan kinerja sistem sistem dalam jangka panjang. Penelitian ini memberikan kontribusi baru bagi kalangan akademisi dengan mengusulkan kerangka kerja pengelolaan kinerja yang berbeda dari yang telah ada saat ini. Yang pertama, kerangka kerja yang diusulkan mengintegrasikan konsep perancangan indikator kinerja, pemodelan sistem, dan penyelesaian permasalahan ke dalam satu rangkaian model yang komprehensif. Hal tersebut berbeda dengan beberapa kerangka kerja yang ada saat ini dimana sebagian besar fokus kepada salah satu dari ketiga aspek tersebut. Yang kedua, kerangka kerja yang diusulkan menyediakan fungsionalitas untuk mengelola konflik antar dimensi kinerja melalui penyediaan indeks kinerja global dan model berbasis system dynamics. Beberapa kerangka kerja populer yang telah ada seperti the BSC, the Performance Prism, KB-PMS, dan SCOR dalam hal ini tidak menyediakan fungsionalitas tersebut. Bagi praktisi, kerangka kerja yang dibangun dapat digunakan untuk merencanakan, mengorganisasikan, mengimplementasikan, dan mengevaluasi kinerja dari perusahaan yang memiliki peran ganda. Karena penelitian ini hanya menggunakan studi kasus tunggal, peneltian lanjutan diperlukan untuk mengetahui generalisasi dari kerangka kerja yang dibangun. Selain itu, penelitian ini dapat dilanjutkan dengan menguji secara empiris efek dari implementasi kerangka kerja yang dibangun terhadap penurunan silo di dalam organisasi dan peningkatan kolaborasi antar pihak-pihak yang ada di dalam sistem logistik.