Article Details

SEKOLAH TINGGI SINEMATOGRAFI BSD

Oleh   Dewi Apriyani [15210022]
Kontributor / Dosen Pembimbing : Indah Widiastuti, S.T., M.T., Ph.D.;
Jenis Koleksi : S1-Tugas Akhir
Penerbit : SAPPK - Arsitektur
Fakultas : Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan
Subjek : Architecture
Kata Kunci : sekolah tinggi, sinematografi, fleksibilitas, integrasi fungsi, komunitas
Sumber :
Staf Input/Edit : suwadji   Ena Sukmana
File : 7 file
Tanggal Input : 26 Nov 2018

Generic placeholder image
2014_TA_PP_DEWI_APRIYANI_1-COVER.pdf

Terbatas
» Gedung UPT Perpustakaan

Generic placeholder image
2014_TA_PP_DEWI_APRIYANI_1-BAB_1.pdf

Terbatas
» Gedung UPT Perpustakaan

Generic placeholder image
2014_TA_PP_DEWI_APRIYANI_1-BAB_2.pdf

Terbatas
» Gedung UPT Perpustakaan

Generic placeholder image
2014_TA_PP_DEWI_APRIYANI_1-BAB_3.pdf

Terbatas
» Gedung UPT Perpustakaan

Generic placeholder image
2014_TA_PP_DEWI_APRIYANI_1-BAB_4.pdf

Terbatas
» Gedung UPT Perpustakaan

Generic placeholder image
2014_TA_PP_DEWI_APRIYANI_1-BAB_5.pdf

Terbatas
» Gedung UPT Perpustakaan

Generic placeholder image
2014_TA_PP_DEWI_APRIYANI_1-PUSTAKA.pdf

Terbatas
» Gedung UPT Perpustakaan


Perkembangan bidang sinematografi Indonesia belumlah mencapai titik optimumnya. Salah satu alasannya adalah kurangnya sumber daya manusia yang memiliki kapabilitas dalam proses pembuatan karya sinematografi. Hal ini disebabkan karena kurangnya institusi pendidikan formal di bidang sinematografi di Indonesia. Sekolah Tinggi Sinematografi BSD ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan itu. Dengan mengacu pada kurikulum USC School of Cinematic Arts yang banyak bekerja sama dengan perfilman Hollywood, diharapkan sekolah ini dapat menjadi batu loncatan demi perkembangan pendidikan sinematografi di Indonesia. Sekolah tinggi, memiliki beberapa isu terkait fungsinya sebagai fasilitas pendidikan. Sebagai satu kota mandiri yang masih berkembang, BSD City, sebagai lokasi proyek ini memunculkan satu isu lain. Terkait dengan sirkulasi dan citra proyek. Sinematografi sebagai salah satu cabang ilmu terapan, juga memunculkan isu lain. Diantaranya kolaborasi, sebagai bagian dari proses pembuatan film, yang dilakukan dengan menggabungkan berbagai elemen. Konsep perancangan didasarkan pada kebutuhan proyek ini sebagai fasilitas pendidikan dalam bidang sinematografi. Perancangan proyek ini mengedepankan integrasi fungsi, kolaborasi dan fleksibilitas. Dengan membuat ruang spatio temporal yang memungkinkan berbagai jenis kegiatan. Kegiatan yang ada dirangkum menjadi edukasi, produksi, eksibisi dan apresiasi. Bangunan seluas 8000 m2 yang berdiri di atas lahan seluas 24.000 m2 ini, diharapkan dapat mewadahi kegiatan yang dilakukan oleh 640 mahasiswa tiap tahunnya.