Erosi banjir bandang dapat menurunkan kualitas tanah pertanian melalui kehilangan
lapisan tanah atas (topsoil). Penelitian ini mengevaluasi potensi biochar tempurung kelapa
sebagai amelioran tanah pertanian terdampak erosi banjir bandang. Biochar diproduksi
melalui slow pyrolysis 500°C dan dikarakterisasi menggunakan BET-BJH, SEM-EDS, pH,
C-organik, rasio O/C, dan logam berat. Tanah diinkubasi 28 hari (respons awal) pada kadar
air 60% WHC dengan dosis biochar 0-5% (D0-D3) berat/berat terhadap massa tanah kering
udara. Parameter yang dianalisis meliputi bulk density, porositas, WHC, pH, C-organik,
KTK, dan kejenuhan basa. Dari D0 ke D3, biochar menurunkan bulk density (1,627
menjadi 1,223 g/cm3) serta meningkatkan porositas (37,52 menjadi 52,02%), WHC (42,76
menjadi 57,36%), pH (5,73 menjadi 6,27), dan C-organik (0,361 menjadi 0,914%); KTK
meningkat (10,86 menjadi 13,21 cmol/kg) sedangkan kejenuhan basa menurun (52,86
menjadi 39,72%). Perbandingan dengan kondisi awal (T0) menunjukkan penurunan KTK
turut dipengaruhi proses inkubasi itu sendiri, sehingga peningkatan KTK akibat biochar
lebih tepat dimaknai sebagai mitigasi parsial. D2 (3%) ditetapkan sebagai dosis efektif
minimum berdasarkan kedekatan terhadap ambang kelas S1 Permentan No. 79/2013,
kesesuaian dengan penelitian acuan, efisiensi bahan baku dibandingkan D3, serta
konfirmasi statistik bahwa D2 berbeda nyata dari D0 pada enam parameter dan tidak
berbeda nyata dari D3 pada bulk density, porositas, WHC, dan pH. D2 dievaluasi dalam uji
perkecambahan kacang hijau dengan faktor biochar dan NPK. D0+NPK, D2, dan D2+NPK
menghasilkan persentase perkecambahan 83,33% (D0: 58,33%); D2+NPK menghasilkan
germination index tertinggi 194,44%, meski biochar, NPK, dan interaksinya tidak
signifikan pada kualitas kecambah hari ke-14. Biochar tempurung kelapa berpotensi
memperbaiki indikator tanah pada inkubasi laboratorium jangka pendek.
Perpustakaan Digital ITB