Badminton merupakan olahraga raket dengan karakteristik intermittent yang
menuntut kemampuan menghasilkan daya eksplosif secara berulang (RPA) selama
pertandingan, dengan waktu istirahat antar rally yang singkat, sekitar 15 detik.
Aktivitas berulang tersebut meningkatkan stres metabolik, stres oksidatif, dan
inflamasi yang berkontribusi terhadap kelelahan serta penurunan performa. Selain
melakukan latihan fisik, upaya untuk memaksimalkan performa tersebut dapat
dilakukan melalui suplementasi ergogenik. Albedo semangka merupakan limbah
pertanian yang sering terbuang, namun memiliki kandungan senyawa aktif yang
berpotensi memiliki manfaat. Senyawa seperti sitrulin dalam albedo semangka,
memicu produksi nitric oxide (NO) yang berperan dalam meningkatkan aliran
darah ke otot yang bekerja selama aktivitas fisik intens. Sementara itu, kayu manis
mengandung senyawa bioaktif seperti sinamaldehida dan polifenol yang memiliki
aktivitas antioksidan, antiinflamasi, serta berpotensi mempercepat pemulihan dan
mengurangi kelelahan. Meskipun manfaat kedua bahan tersebut telah banyak
diteliti secara terpisah, penelitian mengenai kombinasi albedo semangka dan kayu
manis terhadap RPA pada kondisi kelelahan atlet badminton masih terbatas. Oleh
karena itu, penelitian ini bertujuan menguji pengaruh suplementasi kombinasi
albedo semangka dan kayu manis terhadap repeated power ability selama
Badminton Fatigue Test (BFT).
Penelitian ini menggunakan desain randomized double-blind placebo-controlled
pretest–posttest. Melibatkan 25 atlet badminton usia 14–17 tahun yang dibagi
menjadi kelompok suplementasi (n = 13) dan kelompok plasebo (n = 12).
Kelompok suplementasi menerima kombinasi albedo semangka dan kayu manis,
sedangkan kelompok plasebo menerima kapsul plasebo dengan bentuk yang serupa,
selama 28 hari. Parameter utama yang diukur adalah countermovement jump (CMJ)
dan peak power (PP) selama pelaksanaan BFT sebagai indikator RPA. Parameter
pendukungnya meliputi running performance, heart rate, dan rating of perceived
exertion (RPE). Analisis statistik menggunakan uji normalitas Shapiro–Wilk, uji
homogenitas Levene's, independent sample t-test untuk karakteristik awal subjek,
serta two-way repeated measures ANOVA untuk mengevaluasi pengaruh
intervensi. Besaran efek dianalisis menggunakan indeks kelelahan (FI), persentase
perubahan (?%), dan Cohen's d effect size.
i
Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik antropometri dan komposisi
tubuh antara kelompok suplementasi dan plasebo tidak berbeda secara signifikan
pada awal maupun akhir penelitian (p > 0,05) sehingga kedua kelompok memiliki
kondisi dasar yang sebanding. Rata-rata CMJ pada kelompok suplementasi
meningkat dari 57,68 ± 4,64 cm menjadi 57,94 ± 5,88 cm, sedangkan kelompok
plasebo menurun dari 58,78 ± 4,46 cm menjadi 58,02 ± 5,07 cm. Rata-rata PP pada
kelompok suplementasi meningkat dari 3968,15 ± 460,70 W menjadi 4009,82 ±
507,92 W, sedangkan kelompok plasebo menurun dari 4069,96 ± 497,30 W
menjadi 4026,82 ± 510,19 W. Namun, hasil two-way repeated measures ANOVA
menunjukkan tidak terdapat interaksi yang signifikan antara waktu dan kelompok
pada CMJ (p = 0,358) maupun PP (p = 0,190). Kelompok suplementasi mengalami
peningkatan sebesar 0,43 ± 5,73 % pada CMJ dan 1,02 ± 4,45 % pada PP,
sedangkan kelompok plasebo mengalami penurunan sebesar 1,35 ± 2,79 % pada
CMJ dan 1,07 ± 2,70 % pada PP. Analisis Cohen's d menunjukkan efek kecil pada
CMJ (d = 0,38) dan efek sedang pada PP (d = 0,54).
Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa suplementasi kombinasi
albedo semangka dan kayu manis selama 28 hari tidak memberikan pengaruh yang
signifikan terhadap RPA pada atlet badminton usia 14–17 tahun. Meskipun
demikian, kecenderungan peningkatan performa serta nilai effect size kecil hingga
sedang menunjukkan potensi manfaat praktis yang masih memerlukan konfirmasi
melalui penelitian dengan jumlah sampel yang lebih besar, durasi intervensi yang
lebih panjang, serta penambahan parameter fisiologis dan biokimia untuk
memperjelas efek dari intervensi.
Perpustakaan Digital ITB