digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Badminton merupakan olahraga raket dengan karakteristik intermittent yang menuntut kemampuan menghasilkan daya eksplosif secara berulang (RPA) selama pertandingan, dengan waktu istirahat antar rally yang singkat, sekitar 15 detik. Aktivitas berulang tersebut meningkatkan stres metabolik, stres oksidatif, dan inflamasi yang berkontribusi terhadap kelelahan serta penurunan performa. Selain melakukan latihan fisik, upaya untuk memaksimalkan performa tersebut dapat dilakukan melalui suplementasi ergogenik. Albedo semangka merupakan limbah pertanian yang sering terbuang, namun memiliki kandungan senyawa aktif yang berpotensi memiliki manfaat. Senyawa seperti sitrulin dalam albedo semangka, memicu produksi nitric oxide (NO) yang berperan dalam meningkatkan aliran darah ke otot yang bekerja selama aktivitas fisik intens. Sementara itu, kayu manis mengandung senyawa bioaktif seperti sinamaldehida dan polifenol yang memiliki aktivitas antioksidan, antiinflamasi, serta berpotensi mempercepat pemulihan dan mengurangi kelelahan. Meskipun manfaat kedua bahan tersebut telah banyak diteliti secara terpisah, penelitian mengenai kombinasi albedo semangka dan kayu manis terhadap RPA pada kondisi kelelahan atlet badminton masih terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan menguji pengaruh suplementasi kombinasi albedo semangka dan kayu manis terhadap repeated power ability selama Badminton Fatigue Test (BFT). Penelitian ini menggunakan desain randomized double-blind placebo-controlled pretest–posttest. Melibatkan 25 atlet badminton usia 14–17 tahun yang dibagi menjadi kelompok suplementasi (n = 13) dan kelompok plasebo (n = 12). Kelompok suplementasi menerima kombinasi albedo semangka dan kayu manis, sedangkan kelompok plasebo menerima kapsul plasebo dengan bentuk yang serupa, selama 28 hari. Parameter utama yang diukur adalah countermovement jump (CMJ) dan peak power (PP) selama pelaksanaan BFT sebagai indikator RPA. Parameter pendukungnya meliputi running performance, heart rate, dan rating of perceived exertion (RPE). Analisis statistik menggunakan uji normalitas Shapiro–Wilk, uji homogenitas Levene's, independent sample t-test untuk karakteristik awal subjek, serta two-way repeated measures ANOVA untuk mengevaluasi pengaruh intervensi. Besaran efek dianalisis menggunakan indeks kelelahan (FI), persentase perubahan (?%), dan Cohen's d effect size. i Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik antropometri dan komposisi tubuh antara kelompok suplementasi dan plasebo tidak berbeda secara signifikan pada awal maupun akhir penelitian (p > 0,05) sehingga kedua kelompok memiliki kondisi dasar yang sebanding. Rata-rata CMJ pada kelompok suplementasi meningkat dari 57,68 ± 4,64 cm menjadi 57,94 ± 5,88 cm, sedangkan kelompok plasebo menurun dari 58,78 ± 4,46 cm menjadi 58,02 ± 5,07 cm. Rata-rata PP pada kelompok suplementasi meningkat dari 3968,15 ± 460,70 W menjadi 4009,82 ± 507,92 W, sedangkan kelompok plasebo menurun dari 4069,96 ± 497,30 W menjadi 4026,82 ± 510,19 W. Namun, hasil two-way repeated measures ANOVA menunjukkan tidak terdapat interaksi yang signifikan antara waktu dan kelompok pada CMJ (p = 0,358) maupun PP (p = 0,190). Kelompok suplementasi mengalami peningkatan sebesar 0,43 ± 5,73 % pada CMJ dan 1,02 ± 4,45 % pada PP, sedangkan kelompok plasebo mengalami penurunan sebesar 1,35 ± 2,79 % pada CMJ dan 1,07 ± 2,70 % pada PP. Analisis Cohen's d menunjukkan efek kecil pada CMJ (d = 0,38) dan efek sedang pada PP (d = 0,54). Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa suplementasi kombinasi albedo semangka dan kayu manis selama 28 hari tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap RPA pada atlet badminton usia 14–17 tahun. Meskipun demikian, kecenderungan peningkatan performa serta nilai effect size kecil hingga sedang menunjukkan potensi manfaat praktis yang masih memerlukan konfirmasi melalui penelitian dengan jumlah sampel yang lebih besar, durasi intervensi yang lebih panjang, serta penambahan parameter fisiologis dan biokimia untuk memperjelas efek dari intervensi.