Abstrak - Avila Hasna Azzahra Putranto
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Ketergantungan industri pelumas pada sumber fosil menimbulkan isu keberlanjutan dan
lingkungan akibat rendahnya biodegradabilitas pelumas konvensional. Minyak Black
Soldier Fly Larva (BSFL) menjadi kandidat menjanjikan sebagai bahan baku
biopelumas berkelanjutan karena kandungan asam laurat yang tinggi dan
ketersediaannya dari limbah organik. Penelitian ini mengevaluasi potensi minyak BSFL
sebagai bahan baku biopelumas melalui reaksi transesterifikasi dua dan tiga tahap
(metanol pada tahap pertama, trimetilolpropana/TMP pada tahap lanjut) yang dijalankan
pada kondisi tekanan atmosferik, sebagai alternatif dari pendekatan vakum yang lebih
boros energi. Optimasi dilakukan pada tahap pertama dengan memvariasikan rasio
molar minyak:metanol (1:3, 1:6, 1:9), konsentrasi katalis KOH (0,5-2,5%-b), dan waktu
reaksi (60-180 menit). Hasil penelitian menunjukan kondisi operasi optimum tahap
pertama diperoleh pada rasio molar 1:6, katalis KOH 1%-b, dan waktu reaksi 90-120
menit, yang memberikan keseimbangan terbaik antara yield tinggi dan mutu produk.
Biopelumas yang dihasilkan memiliki viskositas 5,703 mm²/s (2 tahap) dan 9,528
mm²/s (3 tahap), angka asam 0,394 dan 0,334 mg KOH/g, densitas 0,824-0,911 g/mL,
serta yield kumulatif 69,88% (2 tahap) dan 19,69% (3 tahap). Produk terbaik memenuhi
spesifikasi viskositas ISO VG 5/7/10 dan angka asam pelumas hidraulik anti-aus
berdasarkan SNI 7069:2016, sehingga berpotensi diaplikasikan sebagai pelumas
hidraulik berbasis ester. Hasil ini mendukung kelayakan minyak BSFL sebagai bahan
baku biopelumas ramah lingkungan berbasis ekonomi sirkular.
Perpustakaan Digital ITB