BAB 1 - Olivero Dylan Januarta
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 2 - Olivero Dylan Januarta
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 3 - Olivero Dylan Januarta
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 4 - Olivero Dylan Januarta
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 5 - Olivero Dylan Januarta
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
DAFTAR PUSTAKA - Olivero Dylan Januarta
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Residu bauksit merupakan sisa hasil pemurnian alumina melalui Proses Bayer dan
masih mengandung sejumlah unsur bernilai, salah satunya skandium (Sc).
Skandium memiliki nilai ekonomi tinggi dan dimanfaatkan antara lain pada paduan
aluminium serta teknologi solid oxide fuel cell (SOFC), sementara ketersediaannya
dari sumber daya primer relatif terbatas. Kandungan Sc dalam residu bauksit secara
global dilaporkan berada pada kisaran 41–254 ppm, sehingga residu bauksit
berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber sekunder Sc. Penelitian ini bertujuan
mempelajari perilaku dan kondisi optimum pelindian Sc dari residu bauksit yang
berasal dari Kalimantan Barat menggunakan asam fosfat (H3PO4), mengevaluasi
signifikansi dan kontribusi parameter proses terhadap ekstraksi Sc, serta
menganalisis kinetika proses pelindiannya.
Penelitian diawali dengan preparasi dan karakterisasi residu bauksit untuk
menentukan komposisi kimia dan mineraloginya. Percobaan pelindian dilakukan
menggunakan H3PO4 dengan variasi konsentrasi asam, rasio padatan terhadap
larutan (solid-to-liquid ratio, S/L), temperatur, dan waktu pelindian. Rancangan
percobaan disusun menggunakan metode Taguchi untuk mengevaluasi pengaruh
parameter proses dan menentukan kondisi optimum dari parameter percobaan.
Analysis of variance (ANOVA) digunakan untuk menentukan signifikansi dan
kontribusi masing-masing parameter terhadap ekstraksi Sc. Percobaan untuk
analisis kinetika pelindian dilakukan pada konsentrasi H3PO4 dan rasio S/L
optimum dengan variasi temperatur dalam rentang 25–100 °C dan waktu pelindian
5–60 menit. Konsentrasi unsur dalam larutan hasil pelindian dan residu dianalisis
menggunakan atomic absorption spectroscopy (AAS) dan inductively coupled
plasma mass spectrometry (ICP-MS), untuk selanjutnya data yang diperoleh
digunakan untuk menentukan persen ektraksi logam dan analisis kinetika pelindian
Sc.
Berdasarkan hasil analisis Taguchi, kondisi optimum untuk pelindian skandium
dari residu bauksit diperoleh pada konsentrasi H3PO4 6,5 M, rasio S/L 100 g/L,
temperatur 50 °C, dan waktu pelindian 1 jam. Hasil ANOVA menunjukkan bahwa
konsentrasi asam memberikan kontribusi terbesar terhadap variasi ekstraksi Sc,
yaitu 62,56%, diikuti oleh rasio S/L sebesar 13,77%, temperatur sebesar 13,75%,
dan waktu pelindian sebesar 4,39%. Hasil analisis kinetika menunjukkan bahwa
pelindian Sc pada temperatur 25–75 °C paling sesuai direpresentasikan oleh
shrinking core model (SCM) dengan pengendali difusi melalui lapisan produk
padat, sedangkan pada temperatur 100 °C data paling sesuai dengan model yang
dikendalikan oleh reaksi kimia. Energi aktivasi pelindian Sc yang diperoleh dari
perhitungan dengan Persamaan Arrhenius adalah 21,9 kJ/mol.
Perpustakaan Digital ITB