BAB 1 Naufal Zhafran
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 2 Naufal Zhafran
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 3 Naufal Zhafran
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 4 Naufal Zhafran
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 5 Naufal Zhafran
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
PUSTAKA Naufal Zhafran
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Proses Rotary Kiln–Electric Furnace (RKEF) membutuhkan reduktor berbasis
karbon dengan fixed carbon tinggi, volatile matter rendah, dan karakteristik fisik
yang mendukung kestabilan operasi. Keterbatasan ketersediaan batubara peringkat
tinggi mendorong pengembangan reduktor alternatif melalui peningkatan kualitas
batubara menggunakan karbonisasi. Penelitian ini bertujuan menentukan
karakteristik awal coking coal dan non-coking coal, menentukan rentang
temperatur karbonisasi berdasarkan simulasi TGA, serta mengevaluasi pengaruh
konfigurasi furnace, temperatur, dan ukuran partikel terhadap karakteristik char.
Produk yang dihasilkan selanjutnya dievaluasi berdasarkan karakteristik kimia dan
fisik, komposisi gas, reaktivitas, stabilitas fisik, dan kesesuaiannya terhadap
spesifikasi acuan reduktor RKEF.
Penelitian diawali dengan karakterisasi kedua batubara melalui analisis proksimat,
ultimat, komposisi abu, GCV, FSI, HGI, distribusi ukuran partikel, dan TGA.
Simulasi pengurangan massa berbasis data TGA digunakan untuk menentukan
rentang temperatur karbonisasi. Pengaruh konfigurasi alat dievaluasi menggunakan
TGA, horizontal tube furnace, dan muffle furnace. Karbonisasi utama dilakukan
pada 500°C, 600°C, dan 700°C menggunakan fraksi kasar (+3 mesh) dan halus (?60
mesh), kemudian dilanjutkan pada 550°C dan 600°C menggunakan fraksi as it is.
Gas hasil karbonisasi dianalisis menggunakan GC, sedangkan reaktivitas char diuji
menggunakan TGA pada atmosfer inert, limited oxygen, dan synthetic air. Stabilitas
fisik dievaluasi setelah pemanasan ulang hingga 950°C.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan temperatur karbonisasi
menurunkan volatile matter dan meningkatkan fixed carbon, tetapi mengurangi
char yield. Konfigurasi furnace memengaruhi char yield, dengan horizontal tube
furnace menghasilkan perolehan terendah pada kondisi perbandingan. Fraksi kasar
cenderung menghasilkan char yield lebih tinggi, tetapi mengalami swelling dan
aglomerasi lebih kuat daripada fraksi halus. Pada kondisi terpilih dan fraksi as it is,
kedua char memenuhi spesifikasi acuan reduktor RKEF. Coking char memiliki
fixed carbon lebih tinggi dan ash lebih rendah, tetapi menunjukkan kecenderungan
swelling dan aglomerasi lebih besar. Sebaliknya, non-coking char memiliki
kecenderungan swelling lebih rendah, tetapi dibatasi oleh kadar ash yang lebih
tinggi. Peningkatan temperatur dari 550°C menjadi 600°C meningkatkan proporsi
H? dan CH? dalam gas hasil karbonisasi. Reaktivitas kedua char meningkat seiring
bertambahnya ketersediaan oksigen, sedangkan pemanasan ulang hingga 950°C
tidak menyebabkan swelling lanjutan yang signifikan. Dengan demikian,
karbonisasi mampu meningkatkan kualitas kedua batubara menjadi char yang
memenuhi kriteria kimia awal sebagai kandidat reduktor RKEF, dengan
keunggulan dan keterbatasan berbeda pada karakteristik fisik dan reaktivitasnya.
Perpustakaan Digital ITB