BAB 1 Zelika Syahla Nabillah
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 2 Zelika Syahla Nabillah
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 3 Zelika Syahla Nabillah
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 4 Zelika Syahla Nabillah
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 5 Zelika Syahla Nabillah
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
PUSTAKA Zelika Syahla Nabillah
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Perkembangan energi baru terbarukan (EBT) mendorong pengembangan teknologi
penyimpanan energi seperti baterai, fuel cell, dan superkapasitor. Grafit merupakan
salah satu bentuk karbon dengan struktur kristalin yang teratur dan banyak
dikembangkan sebagai material elektroda superkapasitor. Superkapasitor berfungsi
sebagai perangkat penyimpanan energi sehingga memerlukan material elektroda
yang memiliki konduktivitas listrik tinggi, dimana grafit memenuhi karakteristik
tersebut. Namun, peningkatan permintaan grafit belum diimbangi oleh ketersediaan
dan produksi grafit alam yang masih terkonsentrasi di beberapa negara. Oleh
karenanya, perlu dicari alternatif bahan baku karbon lainnya untuk menghasilkan
grafit, seperti dari petroleum coke dan batubara. Indonesia merupakan produsen
batubara terbesar ketiga di dunia yang berpotensi dikembangkan sebagai sumber
karbon alternatif untuk pembuatan grafit. Namun, proses grafitisasi konvensional
memerlukan temperatur dan konsumsi energi yang tinggi. Penelitian ini mengkaji
metal-assisted microwave heating sebagai metode alternatif untuk menghasilkan
nanografit pada temperatur yang lebih rendah, dengan mempelajari pengaruh pretreatment
(demineralisasi dan karbonisasi) serta pengaruh daya dan waktu iradiasi
gelombang mikro terhadap struktur, komposisi, dan performa elektrokimia
batubara berbagai peringkat.
Batubara lignit, sub-bituminus, dan bituminus digerus hingga berukuran -200 mesh.
Ketiga sampel batubara dipre-treatment via pelindian bertahap dengan HF 1 M dan
HNO3 0,5 M untuk menghilangkan mineral pengotor, dilanjutkan dengan
karbonisasi batubara pada temperatur 700 °C selama 2 jam untuk menghilangkan
kandungan volatile matter. Sampel hasil karbonisasi dideposisi pada katalis Cu foil
berbentuk fork, kemudian ditempatkan pada reaktor kaca yang dialiri gas H2/N2
untuk selanjutnya dilakukan metal-assisted microwave heating (daya iradiasi 100;
300; 600; dan 1000 W, durasi iradiasi 5; 10; dan 15 menit). Sampel hasil microwave
heating dievaluasi performa elektrokimia dengan metode galvanostatic charge
discharge (GCD) dan cyclic voltammetry (CV) pada elektrolit KOH 3 M.
Hasil penelitian menunjukkan pelindian bertahap efektif menurunkan abu batubara
sebesar 91-98% dengan kadar abu hasil demineralisasi <0,15% (db). Karbonisasi
berhasil menghilangkan volatile matter dan meningkatkan persentase fixed carbon
hasil demineralisasi lignit, sub-bituminus, dan bituminus menjadi 89%, 83% dan
87% (db). Kombinasi iradiasi dengan daya 1000 W dan waktu 15 menit
menghasilkan rasio ????????????????? sampel MS menjadi 1,21 dan derajat grafitisasi 47%,
terbaik dibanding variasi lainnya. Microwave heating meningkatkan keteraturan
struktur dengan penurunan d002 terbesar pada sampel ML menjadi 0,36 nm serta
penurunan gugus (C-H) dan (-OH) dan peningkatan gugus (C=C). Microwave
heating meningkatkan kapasitansi spesifik tertinggi ML 65 F/g (melalui uji GCD)
dan 63 F/g (melalui uji CV) dengan nilai Rct = 1,43 ? dan Rs = 0,44 ?.
Perpustakaan Digital ITB