digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800


BAB 1 - Agesta Yensen Aryansa
Terbatas  Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 2 - Agesta Yensen Aryansa
Terbatas  Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 3 _ Agesta Yensen Aryansa
Terbatas  Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 4 - Agesta Yensen Aryansa
Terbatas  Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 5 - Agesta Yensen Aryansa
Terbatas  Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan

DAFTAR PUSTAKA - Agesta Yensen Aryansa
Terbatas  Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan

High-pressure acid leaching (HPAL) merupakan salah satu teknologi pengolahan biji nikel laterit melalui jalur hidrometalurgi yang sudah banyak digunakan secara global. Proses ini menggunakan asam sulfat untuk melindi bijih nikel limonit pada temperatur dan tekanan tinggi (240-270 0C, 33-55 atm) sehingga dapat melarutkan logam berharga seperti nikel dan kobalt. Namun, proses HPAL juga masih memiliki kelemahan salah satunya, yaitu banyaknya volume limbah padat yang dihasilkan. Untuk setiap satu ton bijih nikel yang diproduksi, diperkirakan menghasilkan limbah padat sekitar 1,4-1,6 kali. Tahapan netralisasi asam menjadi salah satu penghasil limbah padat yang ada pada proses pelindian HPAL. Oleh sebab itu, penelitian ini dilakukan untuk menguji kemampuan bijih saprolit reject yang berpotensi digunakan sebagai agen penetralisir asam, untuk menggantikan reagen yang umum digunakan seperti batu kapur pada proses recycle leaching. Penelitian diawali dengan tahapan preparasi sampel bijih saprolit reject sebagai agen penetralisir. Pada percobaan pendahuluan digunakan design of experiment (DoE) full factorial 23 untuk mengidentifikasi kontribusi dan signifikansi dari faktor rasio reagen/H2SO4, rasio padatan-larutan reagen, dan waktu pelindian. Selanjutnya, pada tahap percobaan utama DoE menggunakan metode Taguchi Orthogonal Array L9 untuk mendapatkan kondisi optimum setiap faktor. Proses percobaan dilakukan dalam reaktor labu tiga leher pada temperatur 95 0C dengan kecepatan pengadukan 400 rpm. Kemudian, larutan hasil pelindian dianalisis dengan atomic absorption spectroscopy (AAS) dan dilakukan titrasi dengan NaOH untuk menentukan konsentrasi asam bebas yang tersisa. Hasil percobaan dengan bijih saprolit reject menunjukkan bahwa rasio bijih/H2SO4 memberikan kontribusi paling dominan sebesar 98,74 %, dikuti rasio padatan- larutan reagen sebesar 0,36 % dan waktu pelindian sebesar 0,09 %. Sementara itu, hasil percobaan CaCO3 sebagai agen penetralisir, menunjukkan bahwa rasio CaCO3/H2SO4 memberikan kontribusi sebesar 96,82 %, waktu pelindian sebesar 1,93 %, dan rasio padatan-larutan reagen sebesar 0,98 %. Parameter optimum yang diperoleh dari percobaan utama dengan reagen bijih saprolit reject, diperoleh untuk rasio bijih/H2SO4 sebesar 1,2; rasio padatan-larutan reagen sebesar 0,33 g/mL; dan waktu pelindian 4 jam. Sedangkan, parameter optimum pada percobaan dengan CaCO3 sebagai reagen penetralisir, untuk rasio CaCO3/H2SO4 sebesar 0,8; rasio padatan-larutan reagen sebesar 0,43 g/mL; dan waktu pelindian 4 jam.