BAB 1 - Nisriina Naira Wibisono
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 2 - Nisriina Naira Wibisono
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 3 - Nisriina Naira Wibisono
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 4 - Nisriina Naira Wibisono
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 5 - Nisriina Naira Wibisono
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
DAFTAR PUSTAKA - Nisriina Naira Wibisono
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Green corrosion inhibitor (GCI) merupakan alternatif inhibitor korosi
konvensional yang berasal dari bahan terbarukan dan lebih ramah lingkungan.
Ekstrak daun kratom (Mitragyna speciosa), tanaman endemik yang banyak
dibudidayakan di Kalimantan, berpotensi sebagai GCI karena mengandung
senyawa fitokimia yang dapat teradsorpsi dan membentuk lapisan pelindung pada
permukaan logam. Efektivitas ekstrak daun kratom sebelumnya telah ditunjukkan
dalam lingkungan asam, tetapi kinerjanya dalam air laut masih perlu dievaluasi,
karena baja karbon banyak digunakan pada konstruksi kelautan dan rentan terhadap
korosi. Kinerja inhibitor organik juga dapat ditingkatkan melalui penambahan ion
halida, yang dapat memperkuat adsorpsi inhibitor pada permukaan logam. Oleh
karena itu, penelitian ini bertujuan mempelajari pengaruh konsentrasi ekstrak daun
kratom dan penambahan kalium iodida (KI) terhadap efisiensi inhibisi korosi baja
SS400 dalam air laut.
Percobaan diawali dengan ekstraksi daun kratom dengan metode maserasi
menggunakan pelarut metanol. Kemudian dilakukan uji perendaman dalam air laut
dengan variasi konsentrasi inhibitor sebanyak 4 level (0,4; 1; 3; dan 5 g/L) dan
penambahan kalium iodida dengan konsentrasi 0,015 M. Uji elektrokimia
dilakukan pada variasi dan level yang sama meliputi pengujian Open Circuit
Potential (OCP), Electrochemical Impedance Spectroscopy (EIS), dan
Potentiodynamic Polarization (PDP). Kemudian, dilakukan uji karakterisasi
permukaan baja menggunakan Scanning Electron Microscope (SEM) dan
karakterisasi senyawa organik menggunakan Fourier Transform Infrared (FTIR)
dan Ultraviolet–Visible (UV–Vis) spectroscopy.
Berdasarkan uji perendaman, didapatkan nilai efisiensi inhibisi tertinggi pada
konsentrasi inhibitor 1 g/L, yaitu sebesar 48,46% tanpa penambahan KI, dan
52,86% dengan penambahan KI, dengan indeks sinergi 0,88. Dari hasil pengujian
elektrokimia, inhibitor ekstrak daun kratom dikategorikan sebagai mixed-type
inhibitor dengan model rangkaian listrik ekuivalen L-Rs-(CPEi(Ri(CPEdl/Rp))) dan
L-Rs-(CPEi??Ri)-(CPEdl??(Rct-W)) untuk konsentrasi inhibitor 1 g/L dan 0,015 M
KI. Karakterisasi SEM, FTIR, dan UV-Vis mendukung terjadinya adsorpsi
komponen ekstrak daun kratom pada permukaan baja, yang ditunjukkan oleh
ukuran pit yang lebih kecil setelah penambahan inhibitor, keberadaan gugus fungsi
organik ekstrak pada produk korosi, serta penurunan absorbansi larutan setelah
perendaman.
Perpustakaan Digital ITB