Kestabilan lereng merupakan aspek penting dalam kegiatan tambang terbuka untuk
menjamin keselamatan kerja dan kelancaran operasi. Pada tambang batubara,
lereng low wall umumnya tersusun atas batuan sedimen berlapis dengan perlapisan
searah kemiringan lereng (slope dip). Analisis kestabilan kerap berfokus pada
longsoran bidang atau busur, namun lapisan tipis menerus berpotensi menekuk
(buckling) akibat gaya tekan aksial di sepanjang perlapisan. Penelitian ini bertujuan
menganalisis potensi buckling lereng low wall menggunakan pendekatan analitis
Boyd (1982) berbasis teori Euler. Evaluasi dilakukan melalui perbandingan
kapasitas beban kritis elastis lempeng (WCR) dan gaya dorong gravitasi lereng atas
(W sin ?). Hasil analisis perpotongan kurva log WCR dan log W sin ? menunjukkan
batas bentang bebas maksimum yang stabil adalah 54 meter dengan panjang lereng
pendorong 350 meter. Lereng sepanjang 405 meter dengan slab 50 sentimeter
berpotensi mengalami buckling apabila slab dibiarkan bebas 54 meter dari kaki
lereng (toe). Kapasitas WCR dipengaruhi sifat geomekanika dan geometri; nilainya
naik linier terhadap modulus deformasi (WCR ? E) serta kubik terhadap ketebalan
lempeng (WCR ? d 3), namun turun berbanding terbalik kuadrat panjang bentang bebas (WCR ? 1/L2
). Dengan demikian, penelitian ini membuktikan bahwa
material lereng yang diteliti dengan nilai modulus deformasi dan ketebalan tersebut
tetap berpotensi mengalami buckling saat panjang slab bebasnya melampaui batas
kritis.
Perpustakaan Digital ITB