Tailing hasil pengolahan nikel dengan metode High Pressure Acid Leach (HPAL) bersifat salin,
miskin hara, dan mengandung nikel tinggi sehingga tidak mendukung pertumbuhan vegetasi.
Penelitian ini bertujuan menentukan pengaruh kompos tandan kosong kelapa sawit (TKKS)
dan kompos sampah organik pasar (KSOP) terhadap perbaikan sifat kimia tailing nikel sebagai
media tanam, pertumbuhan dan biomassa Celosia argentea, serta efektivitas fitoekstraksi nikel
oleh tanaman tersebut. Percobaan pot skala rumah kaca menggunakan media campuran Tanah
Lembang dan tailing nikel (3:1) dengan lima perlakuan, yaitu kontrol (K), TKKS 15% (V1),
TKKS 35% (V2), KSOP 7,5% (V3), dan KSOP 15% (V4), dipanen pada dua waktu (4 dan 8
minggu). Kedua kompos meningkatkan kapasitas tukar kation dari 31,33 cmol/kg pada kontrol
menjadi 38,48–58,74 cmol/kg (TKKS) dan 42,78–48,56 cmol/kg (KSOP), tetapi memberikan
arah perubahan pH yang berlawanan: TKKS menurunkan pH menjadi 6,05–5,84, sedangkan
KSOP menaikkannya menjadi 6,60–6,62. KSOP unggul dalam pasokan hara nitrogen (sekitar
1,4 kali) dan fosfor (sekitar 2,5 hingga 4,1 kali) per satuan dosis dibandingkan TKKS, tetapi
menimbulkan beban salinitas 4,1–6,6 kali lebih besar per satuan dosis, yang menyebabkan
kemunduran sistem perakaran pada periode tanam 8 minggu. Nilai bioconcentration factor
(0,0018–0,0150) dan translocation factor (0,060–0,993) seluruhnya berada di bawah satu,
sehingga C. argentea pada penelitian ini terklasifikasi sebagai tanaman excluder dengan
mekanisme dominan fitostabilisasi. Kompos TKKS dosis 15% (V1) merupakan perlakuan
terbaik, ditunjukkan oleh massa serapan nikel dan nilai translocation factor tertinggi, serta
retensi biomassa akar yang paling baik. Secara keseluruhan, kompos TKKS lebih sesuai
digunakan sebagai pembenah media tailing nikel dibandingkan kompos sampah organik pasar.
Perpustakaan Digital ITB