digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Abstrak
PUBLIC Open In Flipbook Nugi Nugraha

Tailing hasil pengolahan nikel dengan metode High Pressure Acid Leach (HPAL) bersifat salin, miskin hara, dan mengandung nikel tinggi sehingga tidak mendukung pertumbuhan vegetasi. Penelitian ini bertujuan menentukan pengaruh kompos tandan kosong kelapa sawit (TKKS) dan kompos sampah organik pasar (KSOP) terhadap perbaikan sifat kimia tailing nikel sebagai media tanam, pertumbuhan dan biomassa Celosia argentea, serta efektivitas fitoekstraksi nikel oleh tanaman tersebut. Percobaan pot skala rumah kaca menggunakan media campuran Tanah Lembang dan tailing nikel (3:1) dengan lima perlakuan, yaitu kontrol (K), TKKS 15% (V1), TKKS 35% (V2), KSOP 7,5% (V3), dan KSOP 15% (V4), dipanen pada dua waktu (4 dan 8 minggu). Kedua kompos meningkatkan kapasitas tukar kation dari 31,33 cmol/kg pada kontrol menjadi 38,48–58,74 cmol/kg (TKKS) dan 42,78–48,56 cmol/kg (KSOP), tetapi memberikan arah perubahan pH yang berlawanan: TKKS menurunkan pH menjadi 6,05–5,84, sedangkan KSOP menaikkannya menjadi 6,60–6,62. KSOP unggul dalam pasokan hara nitrogen (sekitar 1,4 kali) dan fosfor (sekitar 2,5 hingga 4,1 kali) per satuan dosis dibandingkan TKKS, tetapi menimbulkan beban salinitas 4,1–6,6 kali lebih besar per satuan dosis, yang menyebabkan kemunduran sistem perakaran pada periode tanam 8 minggu. Nilai bioconcentration factor (0,0018–0,0150) dan translocation factor (0,060–0,993) seluruhnya berada di bawah satu, sehingga C. argentea pada penelitian ini terklasifikasi sebagai tanaman excluder dengan mekanisme dominan fitostabilisasi. Kompos TKKS dosis 15% (V1) merupakan perlakuan terbaik, ditunjukkan oleh massa serapan nikel dan nilai translocation factor tertinggi, serta retensi biomassa akar yang paling baik. Secara keseluruhan, kompos TKKS lebih sesuai digunakan sebagai pembenah media tailing nikel dibandingkan kompos sampah organik pasar.