Pit Banko Tengah A merupakan lokasi pertambangan batubara yang dimiliki oleh PT Bukit Asam (Persero) Tbk. Lokasi pertambangan ini memiliki cadangan batubara berkalori rendah untuk mendukung kebutuhan energi domestik Indonesia. Tujuan dari studi ini adalah untuk mengevaluasi kelayakan finansial operasi Pit Banko Tengah A dengan membandingkan dua alternatif bisnis, yang pertama adalah batubara dijual langsung ke Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Mulut Tambang Sumsel-8 dengan harga jual batubara menggunakan skema cost-plus margin, dan yang kedua adalah batubara dijual untuk permintaan domestik lainnya melalui Pelabuhan Tarahan dengan harga jual batubara mengikuti harga patokan batubara (HPB). Metode analisis kelayakan finansial untuk setiap alternatif bisnis menggunakan metode Discounted Cash Flow (DCF), dengan perhitungan Net Present Value (NPV) menggunakan free cash flow to the firm yang didiskonto menggunakan weighted average cost of capital (WACC) sebesar 13,95%. Kedua alternatif bisnis juga dievaluasi dalam hal kelayakan finansial dengan perhitungan Break-Even Stripping Ratio (BESR), Modified Internal Rate of Return (MIRR), Profitability Index (PI) dan Discounted Payback Period. Studi ini juga menggunakan analisis sensitivitas, analisis skenario, dan simulasi Monte Carlo untuk mengevaluasi efek perubahan parameter kunci dalam model keuangan dari setiap alternatif bisnis.
Hasil studi menunjukkan bahwa alternatif 1, yaitu penjualan langsung ke PLTU Mulut Tambang Sumsel-8, lebih layak secara finansial dibandingkan alternatif 2, yaitu penjualan batubara melalui Pelabuhan Tarahan. Alternatif 1 memberikan NPV sebesar US$ 392,72 juta, MIRR sebesar 20,19%, Indeks Profitabilitas sebesar 3,84, dan Periode Pengembalian Diskonto selama 3,25 tahun. Alternatif 1 memiliki rata-rata BESR sebesar 5,74 BCM/ton yang lebih tinggi dari Stripping Ratio (SR) yang direncanakan sebesar 4,00 BCM/ton. Alternatif 2 menghasilkan NPV sebesar US$ (289,88) juta dan rata-rata BESR sebesar 2,40 BCM/ton, yang lebih rendah dari Rasio Penambangan yang Direncanakan (SR) sebesar 4,00 BCM/ton. Parameter utama yang mempengaruhi kelayakan finansial alternatif 1 diurutkan dari yang paling dominan yaitu harga jual batu bara, biaya penambangan overburden, dan tingkat inflasi. Parameter utama yang mempengaruhi kelayakan finansial alternatif 2 diurutkan dari yang paling dominan yaitu harga jual batu bara, biaya pengolahan, penanganan, dan transportasi, serta biaya penambangan overburden. Terakhir, simulasi Monte Carlo menyatakan bahwa alternatif 1 memiliki peluang 74,53% untuk menghasilkan NPV positif, sementara alternatif 2 hanya memiliki 34,86%. Berdasarkan hasil penelitian ini, PT Bukit Asam (Persero) Tbk disarankan untuk menggunakan alternatif 1 sebagai alternatif utama untuk operasi penambangan di Pit Banko Tengah A. PT Bukit Asam (Persero) Tbk disarankan untuk memantau secara berkala harga jual batu bara, biaya penambangan overburden, tingkat inflasi, dan biaya operasional lainnya.
Perpustakaan Digital ITB