North Mentawai Seismic Gap merupakan salah satu segmen kritis pada zona Megathrust
Sumatra yang berpotensi menghasilkan gempa besar karena belum melepaskan energi
tektoniknya secara signifikan selama lebih dari dua abad. Penelitian ini bertujuan
memodelkan pembangkitan, penjalaran dan rendaman tsunami di Kota Padang akibat
skenario gempa pada segmen tersebut serta menganalisis tingkat bahayanya. Pemodelan
dilakukan menggunakan COMCOT dengan skema nested grid empat lapis beresolusi 500
m, 100 m, 50 m, dan 16,67 m, menggunakan skenario gempa Mw 7,8, Mw 8,5, Mw 8,7
dan Mw 8,9. Hasil menunjukkan bahwa peningkatan magnitudo gempa menghasilkan
deformasi dasar laut yang lebih besar sehingga meningkatkan tinggi gelombang tsunami
dan luas area terdampak. Skenario Mw 8,9 menghasilkan deformasi terbesar dengan uplift
maksimum mencapai 33,27 – 34,76 m, sedangkan tinggi tsunami di wilayah pesisir berkisar
5 – 7 m. Hasil validasi menggunakan bilangan Aida menghasilkan nilai K = 1,05 dan ? =
1,07 sehingga model dinilai mampu merepresentasikan karakteristik tsunami dengan baik.
Perbandingan dengan hasil Probabilistic Tsunami Hazard Assessment (PTHA) periode
ulang 500 tahun juga menunjukkan kesesuaian dengan nilai Root Mean Square Error
(RMSE) sebesar 1,501. Hasil pemodelan menunjukkan genangan terjadi hampir di
sepanjang pesisir Kota Padang dengan kedalaman kurang dari 0,5 m hingga lebih dari 6 m.
Dari 11 kecamatan dan 104 desa/kelurahan, terdapat 6 kecamatan dan 41 desa/kelurahan
yang terdampak, dengan Kecamatan Padang Barat menjadi wilayah yang paling luas
terkena genangan dengan luasan wilayah terendam sebanyak 390,22 hektar dan persentase
terhadap luasan wilayah Padang Barat sebesar 55,75 %.
Perpustakaan Digital ITB