digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Raudhotusharifah
PUBLIC Open In Flipbook Rita Nurainni, S.I.Pus

North Mentawai Seismic Gap merupakan salah satu segmen kritis pada zona Megathrust Sumatra yang berpotensi menghasilkan gempa besar karena belum melepaskan energi tektoniknya secara signifikan selama lebih dari dua abad. Penelitian ini bertujuan memodelkan pembangkitan, penjalaran dan rendaman tsunami di Kota Padang akibat skenario gempa pada segmen tersebut serta menganalisis tingkat bahayanya. Pemodelan dilakukan menggunakan COMCOT dengan skema nested grid empat lapis beresolusi 500 m, 100 m, 50 m, dan 16,67 m, menggunakan skenario gempa Mw 7,8, Mw 8,5, Mw 8,7 dan Mw 8,9. Hasil menunjukkan bahwa peningkatan magnitudo gempa menghasilkan deformasi dasar laut yang lebih besar sehingga meningkatkan tinggi gelombang tsunami dan luas area terdampak. Skenario Mw 8,9 menghasilkan deformasi terbesar dengan uplift maksimum mencapai 33,27 – 34,76 m, sedangkan tinggi tsunami di wilayah pesisir berkisar 5 – 7 m. Hasil validasi menggunakan bilangan Aida menghasilkan nilai K = 1,05 dan ? = 1,07 sehingga model dinilai mampu merepresentasikan karakteristik tsunami dengan baik. Perbandingan dengan hasil Probabilistic Tsunami Hazard Assessment (PTHA) periode ulang 500 tahun juga menunjukkan kesesuaian dengan nilai Root Mean Square Error (RMSE) sebesar 1,501. Hasil pemodelan menunjukkan genangan terjadi hampir di sepanjang pesisir Kota Padang dengan kedalaman kurang dari 0,5 m hingga lebih dari 6 m. Dari 11 kecamatan dan 104 desa/kelurahan, terdapat 6 kecamatan dan 41 desa/kelurahan yang terdampak, dengan Kecamatan Padang Barat menjadi wilayah yang paling luas terkena genangan dengan luasan wilayah terendam sebanyak 390,22 hektar dan persentase terhadap luasan wilayah Padang Barat sebesar 55,75 %.