digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Dini Andriani
PUBLIC Open In Flipbook Yati Rochayati

COVER Dini Andriani
PUBLIC Open In Flipbook Yati Rochayati

BAB 1 Dini Andriani
PUBLIC Open In Flipbook Yati Rochayati

BAB 2 Dini Andriani
PUBLIC Open In Flipbook Yati Rochayati

BAB 3 Dini Andriani
PUBLIC Open In Flipbook Yati Rochayati

BAB 4 Dini Andriani
PUBLIC Open In Flipbook Yati Rochayati

BAB 5 Dini Andriani
PUBLIC Open In Flipbook Yati Rochayati

BAB 6 Dini Andriani
PUBLIC Open In Flipbook Yati Rochayati

PUSTAKA Dini Andriani
PUBLIC Open In Flipbook Yati Rochayati

Pulau Jawa terbentuk di atas zona subduksi antara Lempeng Benua Eurasia dan Lempeng Samudra Indo-Australia. Interaksi antar lempeng ini membentuk busur vulkanik di sepanjang Pulau Jawa, sehingga wilayah ini dikenal dengan potensi geotermal yang signifikan di Indonesia. Kajian struktur termal kerak melalui estimasi kedalaman titik Curie atau Curie Point Depth (CPD) sangat penting untuk memahami geodinamika regional, khususnya keterkaitan antara tektonisme, vulkanisme, dan distribusi geotermal. CPD berperan sebagai parameter proksi dalam pemetaan distribusi gradien geotermal dan aliran panas, yang merupakan komponen utama dari parameter geotermal. Penelitian ini menerapkan sebuah pendekatan baru, yaitu Metode IRLS de-fractal, yang menggabungkan metode Iteratively Reweighted Least Squares (IRLS) dan pendekatan de-fractal yang dimodifikasi, untuk memperkirakan CPD secara lebih robust dan mengurangi pengaruh outlier. Analisis menggunakan data anomali magnetik WDMAM dengan cakupan regional, yang dibagi ke dalam 33 blok berukuran 184 km × 184 km dengan 50% overlap, serta menerapkan teknik reduction-to-the-pole (RTP) pada setiap blok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai CPD di Pulau Jawa berkisar antara 14,21 23,41 km, gradien geotermal antara 23,69-39,03 °C/km, dan aliran panas antara 75,21-143,82 mW/m². CPD dangkal, umumnya berkorelasi dengan gradien geotermal dan aliran panas yang tinggi, teridentifikasi di sepanjang sabuk vulkanik Kuarter di Zona Barat dan Zona Timur Pulau Jawa. Anomali termal di Zona Barat diindikasikan berkaitan dengan pengaruh geometri lempeng dan mekanisme perpindahan panas yang dikontrol oleh struktur patahan, sedangkan di Zona Timur lebih dipengaruhi oleh intrusi magmatik dan aktivitas vulkanik yang intens. Secara keseluruhan, hasil ini mengindikasikan peran penting proses tektonik dan magmatik litosfer dalam mengontrol pola struktur termal regional Pulau Jawa, yang secara spasial berasosiasi dengan keberadaan sumber-sumber geotermal di wilayah tersebut.