Pulau Jawa terbentuk di atas zona subduksi antara Lempeng Benua Eurasia dan
Lempeng Samudra Indo-Australia. Interaksi antar lempeng ini membentuk busur
vulkanik di sepanjang Pulau Jawa, sehingga wilayah ini dikenal dengan potensi
geotermal yang signifikan di Indonesia. Kajian struktur termal kerak melalui
estimasi kedalaman titik Curie atau Curie Point Depth (CPD) sangat penting untuk
memahami geodinamika regional, khususnya keterkaitan antara tektonisme,
vulkanisme, dan distribusi geotermal. CPD berperan sebagai parameter proksi
dalam pemetaan distribusi gradien geotermal dan aliran panas, yang merupakan
komponen utama dari parameter geotermal. Penelitian ini menerapkan sebuah
pendekatan baru, yaitu Metode IRLS de-fractal, yang menggabungkan metode
Iteratively Reweighted Least Squares (IRLS) dan pendekatan de-fractal yang
dimodifikasi, untuk memperkirakan CPD secara lebih robust dan mengurangi
pengaruh outlier. Analisis menggunakan data anomali magnetik WDMAM dengan
cakupan regional, yang dibagi ke dalam 33 blok berukuran 184 km × 184 km
dengan 50% overlap, serta menerapkan teknik reduction-to-the-pole (RTP) pada
setiap blok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai CPD di Pulau Jawa berkisar
antara 14,21 23,41 km, gradien geotermal antara 23,69-39,03 °C/km, dan aliran
panas antara 75,21-143,82 mW/m². CPD dangkal, umumnya berkorelasi dengan
gradien geotermal dan aliran panas yang tinggi, teridentifikasi di sepanjang sabuk
vulkanik Kuarter di Zona Barat dan Zona Timur Pulau Jawa. Anomali termal di
Zona Barat diindikasikan berkaitan dengan pengaruh geometri lempeng dan
mekanisme perpindahan panas yang dikontrol oleh struktur patahan, sedangkan di
Zona Timur lebih dipengaruhi oleh intrusi magmatik dan aktivitas vulkanik yang
intens. Secara keseluruhan, hasil ini mengindikasikan peran penting proses tektonik
dan magmatik litosfer dalam mengontrol pola struktur termal regional Pulau Jawa,
yang secara spasial berasosiasi dengan keberadaan sumber-sumber geotermal di
wilayah tersebut.
Perpustakaan Digital ITB