digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Pemadatan dan pengujian kuat geser tanah pada beberapa tanah tropis di pulau Jawa telah dilakukan. Contoh tanah diambil dari 3 lokasi yaitu Cepu (Jawa Timur), Cikalong (Purwakarta, Jawa Barat) dan Pasir Impun (Bandung Jawa Banat) dan dilakukan pengujian untuk dapat mengamati pengaruh EMC2 dengan berbagai variasi rasio pencampuran air dan waktu perawatan, sebagaimana dinyatakan dalam DCP dan UCS, dengan berbagai macam kondisi pemadatan. Pada pengujian DCP, DN (tingkat penetrasi, dalam, mm/blow) merupakan ukuran kuat geser. Pengujian DCP dan UCS dilakukan pada contoh tanah treated dan untreated yang telah dipadatkan berdasarkan prosedur yang ada. Pengukuran pengembangan swelling} dilakukan pada contoh tanah pada saat perendaman selama 4 hari, sebelum pengujian DCP dilakukan. Rasio pencampuran air yang disarankan dan 2 variasi rasio pencampuran air yang,lain, yaitu,diatas dan di bawah nilai yang disarankan, digunakan di dalam penelitian ini. Kadar air dan contoh tanah treated disiapkan berdasarkan nilai kadar air optimum yang diperoleh dari pengujian pemadatan Proctor standar. Dari hasil yang diperoleh, ditemukan bahwa penerapan EMC2 tidak berpengaruh pada nilai kepadatan kering. Pengaruh EMC2 pada contoh-contoh tanah yang diuji, tidak menunjukkan adanya pola yang jelas dalam hal karakteristik pengembangannya. Secara umum, penurunan pengembangan yang berarti diperoleh dari contoh tanah Cepu (dari 1.69 % untuk conto tanah untreated pada kadar air optimum, pengembangannya turun ke dalam rentang antara 0.36 % hingga 1.42 %, dengan satu nilai ekstrim sebesar 2.11 %). Pada. kasus tanah Cikalong dan Pasir Impun, nilai pengembangan yang diperoleh dari material yang di-treated dengan EMC2 berada di atas dan di bawah nilai pengembangan yang dihasilkan dari material yang untreated ( berturut-turut, dari 0.35 % untuk contoh tanah untreated pada kadar air optimum, pengembangan contoh tanah treated-nya berada di dalam rentang antara 0.16 % hingga 0.61 % untuk tanah Cikalong dan dari 0.31 % untuk contoh tanah untreated pada kadar air optimum, pengembangan contoh tanah treated- nya berada di dalam rentang antara 0.15 % hingga 45 % untuk tanah Pasir Impun). Ditemukan juga bahwa pengaruh lamanya waktu perawatan untuk dapat meningkatkan nilai kuat geser sangat tergantung pada jenis tanah. Waktu perawatan yang menghasilkan nilai DN yang terendah adalah 1 hari untuk tanah Cepu (tingkat penetrasi berkurang dari 18.4 mm/blow menjadi 14.67 mm/blow) dan 3 hari untuk tanah Cikalong dan Pasir Impun (berturut-turut, tingkat penetrasi berkurang dari 11.50 mm/blow menjadi 9.53 mm/5low dan dari 16.98 mm/blow menjadi 9.79 mm/blow). Kadar air ditemukan berpengaruh terhadap nilai kekuatan geser tanah, baik itu untuk tanah untreated atau treated. Tingkat penetrasi berkurang dengan meningkatnya kadar air hingga mencapai kadar air optimum, untuk kemudian bertambah seiring dengan penambahan kadar air. Nilai DN pada kadar air optimum untuk contoh-contoh untreated adalah, berturut-turut, sebesar 18.40, 11.50 dan 16.98 mm/blow untuk , Cikalong dan Pasir Impun dan untuk kasus tanah Cikalong, ditemukan bahwa nilai DN sensitif terhachip kadar air pada sisi basah (wet-side) kurva hubungan antara DN dengan kadar air. Kuat geser tak teralirkan (unrdrained shear strength) contohtanah untreated meningkat seining dengan peningkatan kadar air hingga mencapai nilai kadar air optimum, untuk kemudian nilai-nilai tersebut berkurang pada saat dimana kadar air terus meningkat. Nilai kuat geser tak teralirkan pada kadar air optimum yang terbesar adalah 145. 33, 230.40 dan 396.23 a, masing-masing untuk tanah Cepu,Cikalong dan Pasir Impun. Nilai kuat geser tak teralirkan yang diperoleh dari contoh tanah treated, umumnya lebih rendah dibandingkan dengan hasil yang diperoleh dari contoh tanah untreated. Hasil ini disebabkan oIeh karena adanya kerusakan contoh tanah, pada saat mengikuti prosedur pengambilan benda uji dari material treated dalam pengujian UCS.