digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK_Feodora Clarissa Tampubolon [13322041]
Terbatas  Rina Kania
» Gedung UPT Perpustakaan

COVER
Terbatas  Rina Kania
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB I
Terbatas  Rina Kania
» Gedung UPT Perpustakaan

Bab II
Terbatas  Rina Kania
» Gedung UPT Perpustakaan

Bab III
Terbatas  Rina Kania
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB IV
Terbatas  Rina Kania
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB V
Terbatas  Rina Kania
» Gedung UPT Perpustakaan

DAFTAR PUSTAKA
Terbatas  Rina Kania
» Gedung UPT Perpustakaan

LAMPIRAN
Terbatas  Rina Kania
» Gedung UPT Perpustakaan

Retrofit bangunan adalah proses modifikasi komponen, material, atau sistem untuk menurunkan konsumsi energi dan meningkatkan kinerja bangunan tanpa melakukan rekonstruksi. Penerapannya di Indonesia masih terbatas karena minimnya pedoman terstruktur dalam memilih strategi retrofit yang tepat sehingga keputusan umumnya hanya mengutamakan biaya investasi awal (CAPEX) tanpa mempertimbangkan aspek lain secara komprehensif, seperti kualitas lingkungan dalam ruang (IEQ). Studi retrofit sejenis pada iklim tropis-lembab umumnya masih terbatas pada satu jenis intervensi atau tidak mengakomodasi perbedaan prioritas antarpemangku kepentingan. Penelitian ini mengembangkan kerangka kerja pendukung keputusan untuk gedung perkantoran tinggi di Jakarta, menggunakan simulasi kinerja bangunan untuk membandingkan strategi retrofit fasad, sistem, dan operasional yang kemudian dievaluasi melalui analisis keputusan multi-kriteria (MCDM) dengan mempertimbangkan intensitas konsumsi energi (IKE), IEQ, dan biaya investasi. Retrofit fasad, khususnya pengurangan window-to-wall ratio (WWR), muncul sebagai strategi tunggal paling berpengaruh, sementara kombinasi retrofit fasad dan sistem menghasilkan penghematan energi yang bersifat non-aditif. Strategi retrofit optimal bervariasi antarprofil prioritas dan menunjukkan kemampuan kerangka kerja dalam menyesuaikan rekomendasi dengan tujuan pemangku kepentingan yang berbeda. Penelitian ini juga menegaskan pentingnya desain pasif yang responsif terhadap kondisi iklim. Kebaruan penelitian ini terletak pada mekanisme diferensiasi rekomendasi retrofit berdasarkan profil prioritas pemangku kepentingan pada konteks gedung tinggi perkantoran di Indonesia, sekaligus memberikan kontribusi berupa kerangka kerja pengambilan keputusan yang dapat digunakan untuk konteks bangunan tinggi di iklim tropis-lembab lainnya.