digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, memiliki banyak sekali kawasan pesisir. Kawasan pesisir adalah kawasan yang rentan terhadap terjadinya perubahan namun memiliki nilai yang sangat penting terhadap kesejahteraan masyarakat dan perekonomian negara. Dinamika kawasan pesisir yang kompleks dipengaruhi oleh aktivitas yang terjadi di daratan maupun perairan. Aktivitas yang terjadi di daratan erat kaitannya terhadap pengelolaan DAS (Daerah Aliran Sungai) mulai dari hulu hingga hilir hingga akhirnya tiba di muara sungai atau pesisir laut. Berdasarkan observasi yang dilakukan pada penelitian sebelumnya pada citra satelit menggunakan Google Earth Pro, pada pesisir Kecamatan Losarang dan sekitarnya terdapat tanah timbul yang mulai berkembang mulai dari tahun 2014 dan semakin meluas hingga saat ini. Pada penelitian tersebut didapatkan bahwa terdapat akresi sebesar 148.12 ha dengan laju perubahan garis pantai rata-rata mencapai 3.14 m/tahun, namun belum dikaji secara menyeluruh perubahan tutupan lahan dan erosi dalam skala DAS yang bermuara pada tanah timbul tersebut beserta strategi mitigasi untuk mengurangi atau mencegah terbentuknya tanah timbul. Tanah timbul telah menimbulkan banyak sekali kontroversi, dari sudut positif memberikan lahan baru untuk aktivitas ekonomi dan dari sudut negatif memberikan dampak buruk terhadap lingkungan dan tidak jarang terjadinya konflik hak milik/pengelolaan. Adanya tanah timbul berasal dari sedimentasi yang diduga kuat akibat erosi yang masif yang berkaitan dengan adanya perubahan tutupan lahan, khususnya pada daerah bervegetasi. Adapun DAS yang bermuara pada tanah timbul tersebut adalah DAS Kalicilet, Pasirangin, dan Cibuaya. Melalui hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika perubahan tutupan lahan pada DAS Kalicilet, DAS Pasirangin, dan DAS Cibuaya yang merupakan DAS yang memiliki muara pada tanah timbul yang terjadi selama periode 2009-2025, menganalisis dinamika erosi dan sedimentasi beserta hubungannya terhadap tutupan lahan, mengidentifikasi stakeholder yang terlibat dalam pengelolaan DAS, dan menyusun strategi pengelolaan DAS sebagai upaya menurunkan erosi dan sedimentasi akibat perubahan tutupan lahan. Dalam melakukan analisis dinamika perubahan tutupan lahan digunakan algoritma klasifikasi Random Forest dan OSD (On-Screen Digitizing) untuk menghasilkan akurasi yang tinggi. Untuk menganalisis dinamika erosi digunakan pemodelan USLE (Universal Soil Loss Equation) dan dikonversi menggunakan SDR (Sediment Delivery Ratio) untuk mengetahui sedimen yang terbentuk. Selanjutnya dilakukan analisis stakeholder untuk memetakan tingkat pengaruh dan kepentingan stakeholder yang diidentifikasi terhadap pengelolaan DAS, serta disusunlah strategi pengelolaan DAS berdasarkan hasil yang didapatkan melalui analisis spasial dan stakeholder yang dilakukan beserta studi literatur. Hal inilah yang menjadi kebaruan dalam penelitian ini. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan perubahan tutupan lahan terbesar terjadi pada pengurangan daerah bervegetasi sebesar 1274.51 ha (15.76%) dan pertambahan terbesar pada lahan terbangun sebesar 1040 ha (26.64%). Untuk rata-rata erosi yang didapatkan sebesar 13.39 ton/ha/tahun dan rata-rata sedimentasi yang terjadi sebesar 1.87 ton/ha/tahun. Melalui pemodelan yang dilakukan didapatkan bias sebesar 35.96%. Bias tersebut masih dapat diterima karena area kajiannya yang cukup luas. Untuk stakeholder-nya didapatkan 10 pemangku kepentingan/stakeholder yang diidentifikasi, dengan Kementerian Kehutanan, Kementerian PUPR, BBWS Cimanuk-Cisanggarung, BPDAS Cimanuk-Citanduy, Perum Perhutani, Bappeda, dan Dinas Lingkungan Hidup sebagai Stakeholder kunci, Dinas Pertanian, KTH, dan Perusahaan IPPKH/PPKH sebagai Stakeholder primer. Adapun strategi mitigasi yang dilakukan berupa rehabilitasi dan revegetasi lahan kritis khususnya pada kawasan hutan seluas 32451.8 ha yang ada pada DAS, bila diimplementasikan mampu menurunkan total erosi sebesar 25% dari tahun 2025 dan menurunkan rata-rata erosi sebesar 31.37% dari 5 periode pengamatan. Sehingga, melalui penelitian yang dilakukan didapatkan bahwa terjadi penurunan daerah bervegetasi yang cukup besar khususnya pada kawasan hutan dan revegetasi serta rehabilitasi kawasan hutan pada DAS yang dikaji mampu menurunkan erosi yang cukup besar dibandingkan tahun sebelumnya.