Banjir merupakan salah satu bencana hidrometeorologi yang paling sering terjadi di Indonesia dan menimbulkan dampak berulang terhadap keberlanjutan fungsi hunian. Kecamatan Dayeuhkolot termasuk wilayah dengan frekuensi banjir tertinggi di Kabupaten Bandung, sedangkan Desa Citeureup menjadi salah satu kawasan yang paling terdampak karena berada di dataran rendah Cekungan Bandung serta dikelilingi oleh Sungai Citarum, Sungai Cikapundung, dan Sungai Cikapundung Kolot. Berbagai upaya penanganan banjir telah dilakukan melalui peningkatan infrastruktur dan pengelolaan kawasan, tetapi umumnya belum didasarkan pada variasi kerentanan setiap bangunan. Kajian terdahulu juga lebih banyak dilakukan pada skala kawasan atau wilayah administratif sehingga belum mampu mengidentifikasi perbedaan karakteristik fisik antarbangunan. Selain itu, penilaian kerentanan fisik masih jarang diintegrasikan dengan ketangguhan hunian dan kapasitas adaptif masyarakat serta digunakan sebagai dasar penyusunan strategi mitigasi yang divalidasi berdasarkan kondisi lokal. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengidentifikasi tingkat dan sebaran kerentanan fisik hunian terhadap banjir berdasarkan kondisi bangunan, lingkungan, dan banjir melalui analisis spasial GIS; (2) mengidentifikasi tingkat ketangguhan hunian berdasarkan kemampuan bangunan bertahan, tingkat kerusakan, kecepatan pemulihan, dan kesiapan adaptasi; serta (3) merumuskan strategi mitigasi yang sesuai dengan kondisi kerentanan dan ketangguhan eksisting.
Penelitian menggunakan metode campuran dengan desain paralel konvergen. Seluruh 45 unit hunian di RT 01 Desa Citeureup diteliti melalui total sampling. Kerentanan dinilai menggunakan 14 parameter yang dikelompokkan ke dalam dimensi kondisi bangunan, kondisi lingkungan, dan kondisi banjir. Setiap parameter diklasifikasikan, diberi skor, dan dibobot berdasarkan penilaian ahli, kemudian diintegrasikan melalui weighted overlay berbasis GIS untuk menghasilkan Indeks Kerentanan (Vulnerability Index/VI). Ketangguhan dihitung melalui integrasi empat dimensi menjadi Indeks Ketangguhan (Resilience Index/RI) dan dipetakan secara spasial. Hubungan VI dan RI dianalisis menggunakan korelasi
Spearman, sedangkan pola ketangguhan hasil wawancara dianalisis melalui contingency analysis, uji chi-square, dan hierarchical cluster analysis. Strategi mitigasi disusun berdasarkan hasil pemetaan, korelasi, dan pengelompokan tersebut, kemudian dinilai oleh tujuh validator yang terdiri atas empat akademisi dan tiga pemangku kepentingan lokal.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 31 hunian berada pada kategori kerentanan sedang dan 14 hunian pada kategori tinggi. Kerentanan fisik terutama dipengaruhi oleh rendahnya ketinggian lantai, dominasi bangunan satu lantai, tingginya frekuensi dan kedalaman banjir, kedekatan dengan sungai, serta terbatasnya ruang terbuka dan area resapan. Sebaliknya, sebagian besar material dinding, lantai, struktur, dan kondisi struktur relatif mampu bertahan terhadap genangan sehingga faktor arsitektural dan keterpaparan banjir lebih dominan daripada jenis material semata. Tingkat ketangguhan hunian didominasi kategori sedang dan tinggi, tetapi kesiapan adaptasi menjadi dimensi yang relatif paling lemah. Korelasi Spearman menghasilkan nilai ? = ?0,4415 dengan p = 0,0030, yang menunjukkan hubungan negatif, signifikan, dan berkekuatan sedang antara kerentanan dan ketangguhan. Temuan ini menunjukkan bahwa meningkatnya kerentanan fisik cenderung diikuti oleh menurunnya ketangguhan, tetapi hubungan tersebut tidak bersifat deterministik karena modal sosial, pengalaman menghadapi banjir, dukungan antarwarga, dan kapasitas adaptif dapat mempertahankan ketangguhan sebagian hunian yang secara fisik tergolong rentan.
Strategi prioritas bagi hunian berkerentanan tinggi meliputi peninggian lantai, penggantian material dinding nonpermanen, penguatan struktur kayu, penyediaan ruang aman vertikal, serta pemetaan akses terhadap bantuan dan sumber daya eksternal. Pada tingkat komunitas, strategi dengan kelayakan tertinggi mencakup penguatan sistem peringatan dini melalui WhatsApp, pembentukan Tim Siaga Banjir RT, penetapan jalur dan titik evakuasi resmi, serta penguatan jaringan gotong royong untuk pemulihan pascabanjir. Penelitian ini menghasilkan kerangka mitigasi pada skala bangunan individual yang mengintegrasikan kerentanan fisik, kapasitas adaptif, analisis spasial GIS, dan validasi multipihak. Kerangka tersebut memungkinkan pemerintah desa, BPBD, dinas teknis, dan masyarakat menentukan prioritas intervensi secara lebih terarah, membedakan kebutuhan setiap kelompok hunian, serta mengalokasikan sumber daya secara lebih efektif. Pendekatan ini dapat direplikasi pada permukiman padat rawan banjir lainnya dengan penyesuaian terhadap karakteristik fisik, sosial, dan kelembagaan setempat.
Perpustakaan Digital ITB