digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

COVER LUCKY LUQMAN NURRAHMAT
EMBARGO  2029-07-16 

Transisi energi di Indonesia menghadapi tantangan trilema yang kompleks, yakni menyeimbangkan keamanan energi, keberlanjutan lingkungan, dan keterjangkauan ekonomi. Pemerintah Indonesia telah mencanangkan visi ambisius pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 GWp dan eliminasi impor BBM demi mencapai swasembada energi. Namun, ambisi ini terhambat oleh tingginya Biaya Pokok Penyediaan (BPP) listrik akibat rantai pasok industri surya domestik yang belum matang dan kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang kaku, sehingga menciptakan disparitas harga (Levelized Cost of Electrcity atau LCOE) yang signifikan dibandingkan benchmark global. Penelitian ini relevan dengan mandat kelompok sindikat dan BPI Danantara dalam merumuskan strategi investasi strategis untuk memecahkan kebuntuan struktural tersebut. Masalah utama yang dikaji adalah bagaimana menyeimbangkan trade-off antara kewajiban industrialisasi lokal (TKDN) dan pencapaian biaya energi yang kompetitif. Penelitian ini bertujuan untuk merancang model finansial dan investasi bagi CTO Office BPI Danantara dalam mengorkestrasi program 100 GWp. Solusi potensial yang diajukan adalah penerapan model finansial yang optimal mempertimbangkan harga LCOE yang dapat diterima (acceptable) dan pemenuhan maksimal tingkat komponen dalam negeri, beserta enabling regulations & policies yang dapat membantu mewujudkannya. Metodologi yang digunakan adalah Metode Campuran (Mixed-Methods) dengan desain Penelitian Tindakan (Action Research). Pendekatan ini menggabungkan analisis kualitatif melalui Gap Analysis rantai pasok dan wawancara pemangku kepentingan, serta analisis kuantitatif melalui pemodelan finansial LCOE dengan studi kasus proyek de-dieselisasi PLTS + BESS Saparua. Hasil penelitian merumuskan Strategi Tiga Pilar Terintegrasi bagi BPI Danantara, yang terdiri atas orkestrasi aggregated demand dari pipeline 100 GWp, deployment concessional capital melalui blended finance, dan phased TKDN roadmap berbasis kematangan industri per kategori komponen. Model finansial Saparua menghasilkan LCOE murni sebesar 19,55 sen USD/kWh dengan Equity IRR 11,00 persen, lebih rendah 23,8 persen dibanding BPP diesel. Pada skala program 100 GWp, cost-benefit analysis produksi modul lokal menghasilkan Benefit-Cost Ratio sebesar 2,10x hingga 6,49x dengan potensi penghindaran emisi tahunan 95 hingga 110 MtCO2 dan penciptaan 14.560 pekerjaan permanen di sektor manufaktur. Dampak yang diharapkan dari penelitian ini meliputi terciptanya peta jalan kemandirian teknologi nasional, penurunan emisi karbon secara signifikan, serta penciptaan nilai tambah ekonomi dan lapangan kerja melalui pembangunan ekosistem industri hijau yang kompetitif di Indonesia.