Abstrak - Randy Verdian
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Manajemen portofolio saham di pasar negara berkembang seperti Indonesia menghadapi
tantangan volatilitas tinggi dan perubahan rezim pasar yang cepat. Pendekatan Reinforcement
Learning (RL) agen tunggal seringkali kesulitan menyeimbangkan agresivitas saat pasar
naik dengan proteksi modal saat pasar turun. Penelitian ini mengembangkan sistem Multi-
Agent Reinforcement Learning (MARL) untuk manajemen portofolio swing trading pada saham
LQ45, yang mendekomposisi tugas ke dalam tiga agen spesialis — Stock Picker, Risk
Manager, dan Portfolio/Execution Agent — yang dilatih secara simultan dengan critic berobservasi
asimetris. Sistem dilengkapi Market Regime Detector berbasis Gaussian Hidden
Markov Model dan Risk Profile Synthesizer yang sadar rezim, serta menegakkan batasan
mikrostruktur Bursa Efek Indonesia. Pengujian menggunakan walk-forward validation pada
data LQ45 berfrekuensi 5-menit untuk dua periode pasar berlawanan arah. Pada periode
bullish, sistem mencatat return +8,67% (LQ45: +3,05%); pada periode bearish (LQ45 turun
?21,48%), kerugiannya hanya ?2,52% dengan Maximum Drawdown kurang dari setengah
drawdown benchmark. Sistem mengungguli seluruh strategi single-agent pada kedua periode,
dan selisihnya signifikan secara statistik pada periode bullish. Analisis mendalam mengungkap
tiga temuan yang menuntut kehati-hatian dalam menafsirkan angka tersebut. Pertama, kev
unggulan atas agen tunggal hampir seluruhnya bersumber dari pengendalian turnover: sistem
MARL menahan posisi rata-rata 7,7–8,8 hari dan membayar biaya transaksi 4,35% dari
modal, sedangkan agen tunggal menutup posisi dalam median satu hari dan membayar 14–
16%. Kedua, excess return +18,97% sebagian besar merupakan premi pembobotan merata,
bukan alpha sistem: strategi equal-weight yang naif memperoleh +16,94%, dan keunggulan
sistem atas baseline konvensional (sekitar +2 poin persentase) tidak signifikan secara statistik.
Ketiga, meskipun detektor rezim bekerja akurat (pbear rata-rata 0,788 saat bearish), rasio
alokasi saham praktis identik antar rezim (78,5% vs 78,6%) karena multiplier risiko menskala
aksi beli dan jual secara simetris sehingga membekukan portofolio alih-alih memindahkannya
ke kas. Penelitian ini karenanya menyimpulkan bahwa dekomposisi multi-agen dengan lapisan
risiko sadar-rezim efektif meredam churn biaya transaksi yang menjadi kelemahan utama agen
RL monolitik pada data intraday, sementara kemampuan adaptasi rezim yang sesungguhnya
menuntut perbaikan rancangan yang diuraikan pada bab penutup.
Perpustakaan Digital ITB