Danau pascatambang berpotensi mengalami penurunan kualitas air akibat terbentuknya air asam tambang yang dicirikan oleh pH rendah serta peningkatan konsentrasi logam terlarut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas, kebutuhan bahan, dan biaya dari berbagai skenario penetralan serta menentukan skenario penetral yang paling optimal pada kondisi air danau pascatambang yang berbeda. Data kualitas air yang digunakan merupakan data sekunder dari enam kondisi air danau pascatambang hasil penelitian Mustafa (2025). Setiap kondisi dianalisis secara independen menggunakan PHREEQC dengan sepuluh skenario penetralan yang terdiri atas empat bahan tunggal, yaitu CaO, NaOH, CaCOJ, dan Na2COJ, serta enam kombinasi dua bahan dengan perbandingan molar I: I. Evaluasi hasil simulasi dilakukan berdasarkan parameter pH, Fe, dan Mn dengan mengacu pada Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 113 Tahun 2003, yaitu pH 6-9, Fe maksimum 7 mg/L, dan Mn maksimum 4 mg/L. Hasil simulasi menunjukkan bahwa seluruh skenario pada keenam kondisi mampu memenuhi baku mutu. Nilai pH setelah netralisasi berada pada rentang 6,40-6,96, konsentrasi Fe berada pada kisaran 0,02-0,03 mg/L, sedangkan konsentrasi Mn berada pada kisaran 0,06-0,23 mg/L. Perbandingan kebutuhan bahan dan biaya pada setiap kondisi menunjukkan bahwa CaO merupakan skenario yang paling optimal. Hasil analisis scatter plot kebutuhan penetral terhadap biaya menunjukkan bahwa CaO secara konsisten berada pada posisi paling menguntungkan dibandingkan skenario lainnya. Dengan demikian, CaO menjadi bahan penetral yang paling optimal berdasarkan efektivitas pemenuhan baku mutu serta pertimbangan kebutuhan bahan dan biaya pada seluruh kondisi yang dianalisis.
Perpustakaan Digital ITB