digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Bendungan limbah tambang menyimpan material berupa lumpur yang berpotensi menimbulkan dampak serius terhadap lingkungan dan masyarakat apabila terjadi kegagalan atau keruntuhan, dimana overtopping merupakan penyebab kegagalan yang paling umum terjadi. Pada umumnya, simulasi keruntuhan bendungan hanya mempertimbangkan aliran air (non-debris) tanpa memperhitungkan material padat yang terbawa, padahal aliran lumpur (debris) memiliki tingkat bahaya yang lebih tinggi akibat densitas dan kemampuan angkut material yang lebih besar. Penelitian ini membahas simulasi keruntuhan Bendungan Limbah Tambang Umpang Karang yang berlokasi di Tujuh Bukit Copper Gold Minesite, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur. Simulasi aliran akibat keruntuhan bendungan dilakukan menggunakan program HEC-RAS 2D versi 6.6 serta model numerik berbasis metode beda hingga dengan skema Mac-Cormack yang dikembangkan menggunakan program Fortran. Dua kondisi hidrologi awal yang dipertimbangkan adalah kondisi hari cerah (sunny day) dan hari hujan (rainy day), yang keduanya diasumsikan terjadi akibat kegagalan overtopping. Kondisi sunny day merepresentasikan keruntuhan pada cuaca normal tanpa curah hujan dan tambahan aliran masuk, sedangkan kondisi rainy day merepresentasikan keruntuhan yang terjadi saat atau setelah hujan ekstrem dengan kondisi waduk terisi penuh. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan karakteristik aliran debris dan non-debris serta pengaruhnya terhadap area hilir bendungan, memetakan daerah genangan untuk masing-masing jenis aliran pada kondisi sunny day dan rainy day, membandingkan hasil simulasi antara HEC-RAS 2D dan model numerik skema Mac-Cormack, serta melakukan pemetaan bahaya banjir berdasarkan kedalaman genangan dan kecepatan aliran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aliran debris memberikan dampak yang lebih signifikan dibandingkan aliran non-debris, ditandai dengan debit puncak, volume aliran, kedalaman genangan, dan kecepatan aliran yang lebih besar. Skenario rainy day menghasilkan area genangan yang lebih luas dibandingkan sunny day, dengan kondisi paling kritis terjadi pada skenario debris rainy day, yaitu area genangan sebesar 11.490.309,85 m², kedalaman genangan maksimum 10,30 m, dan kecepatan aliran maksimum 9,50 m/s. Perbandingan hasil simulasi menunjukkan bahwa kedua model menghasilkan pola genangan yang konsisten meskipun terdapat perbedaan kuantitatif. Pengaruh pasang surut tidak signifikan pada aliran non-debris, namun mulai memengaruhi sebaran genangan aliran debris sekitar empat jam setelah keruntuhan. Pemetaan bahaya banjir menunjukkan tingkat bahaya tertinggi terjadi pada skenario aliran debris, khususnya di area hilir yang dekat dengan bendungan, sehingga hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai dasar evaluasi risiko dan perencanaan mitigasi keruntuhan bendungan limbah tambang.