digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Abstrak - ENJELLY FLORECYTA ASTHAVELIA
Terbatas  Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan

Pantai Congot di Kabupaten Kulon Progo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, merupakan kawasan pesisir yang dipengaruhi oleh interaksi hidrodinamika Samudra Hindia dan suplai sedimen dari Sungai Bogowonto serta Sungai Serang. Dinamika gelombang berenergi tinggi dan dominasi transpor sedimen sejajar pantai (longshore sediment transport) menyebabkan perubahan morfologi pantai yang signifikan berupa abrasi dan akresi. Pembangunan groin Tahap IV sebagai bagian dari pekerjaan pengaman pantai dilakukan sebagai upaya mitigasi abrasi, namun keberadaannya berpotensi mengubah keseimbangan neraca sedimen di kawasan sekitarnya sehingga diperlukan evaluasi kinerja sekaligus perumusan desain groin yang lebih optimal. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengevaluasi kinerja groin eksisting terhadap perubahan pola hidrodinamika dan morfologi Pantai Congot, (2) merumuskan desain groin optimal untuk mengurangi laju kemunduran garis pantai, dan (3) mengestimasi kebutuhan biaya konstruksinya. Pendekatan yang digunakan adalah pemodelan numerik hidrodinamika, gelombang, dan transpor sedimen dua dimensi menggunakan perangkat lunak Delft3D (modul FLOW WAVE), dengan mempertimbangkan kontribusi suplai sedimen dari daerah tangkapan Sungai Bogowonto dan Sungai Serang Analisis dilakukan menggunakan data pasang surut, gelombang hasil hindcasting (metode SverdrupMunk Bretschneider, 2005 2025), angin (reanalisis ECMWF), batimetri (BATNAS), topografi pesisir (DEMNAS), debit sungai, serta menghasilkan RMSE sebesar 2,965 3,328 dan koefisien Nash Sutcliffe (NSE) sebesar 0,995 0,996, yang menunjukkan model merepresentasikan kondisi lapangan dengan baik. Transpor sedimen neto sejajar pantai pada kondisi eksisting diestimasi sebesar ±359.750 m³/tahun ke arah barat. Proyeksi kenaikan muka air laut (Sea Level Rise) untuk umur rencana struktur 50 tahun ditetapkan sebesar 50 cm, digunakan dalam penentuan elevasi muka air rencana (Design Water Level) dan elevasi mercu groin. Hasil pemodelan pada kondisi eksisting pasca-groin Tahap IV menunjukkan adanya hambatan terhadap laju transpor sedimen sejajar pantai yang memicu akumulasi sedimen di sisi updrift atau di antara struktur groin, sementara perubahan pola arus dan distribusi energi gelombang menyebabkan defisit sedimen dan erosi pada sisi downdrift, khususnya di segmen barat sistem groin. Secara kuantitatif, tercatat total sedimentasi sebesar 208.799,987 m³ dan total erosi sebesar 46.386,219 m³ selama periode simulasi. Berdasarkan evaluasi tersebut, dirumuskan desain groin optimal (Skenario 3A) berupa 14 unit groin dengan jarak antar-groin (spacing) 400 m dan panjang masingmasing struktur 100 m tegak lurus garis pantai. Elevasi mercu direncanakan seragam pada +5,0 m dengan lebar puncak bervariasi antara 3,5 m pada bagian badan (trunk) hingga 5,3 m pada bagian ujung (head). Lapis lindung utama (armor layer) menggunakan unit tetrapod fabrikasi seberat 3,2; 6,3; dan 12,5 ton, didukung lapis bawah (underlayer) 80 1.000 kg, lapis inti (core layer) 2 8 kg, serta pelindung kaki (toe protection) menggunakan tetrapod 2 6,3 ton. Pemodelan terhadap desain ini menghasilkan tangkapan sedimen sebesar 804.796,869 m³ dengan volume erosi sebesar 46.386,219 m³, menunjukkan peningkatan stabilitas garis pantai dibandingkan kondisi eksisting. Estimasi Rencana Anggaran Biaya (RAB) untuk pembangunan keseluruhan sistem groin hasil redesain tersebut adalah sebesar Rp307.569.033.003,84, terdiri atas biaya konstruksi langsung, alokasi Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi (SMKK) sebesar 2%, dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 11%, dengan ekuivalensi biaya per unit groin sekitar Rp21,97 miliar.