digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Industri pendidikan memainkan peran penting dalam pembangunan nasional Indonesia, didorong oleh alokasi anggaran pendidikan nasional sekurang kurangnya 20 persen. Namun, institusi perguruan tinggi swasta, yang mencakup 96 persen dari pasar pendidikan tinggi, menghadapi persaingan yang semakin ketat. Penelitian ini berfokus pada Institut Budi Utomo Nasional (INSTBUNAS) di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, yang bertransformasi dari STIE STMY pada tahun 2023. Sejak transformasinya, INSTBUNAS mengalami fluktuasi pendaftaran mahasiswa baru, termasuk penurunan yang signifikan pada program studi Manajemen baru-baru ini. Untuk dapat bertahan dan tetap relevan, institusi harus mengembangkan posisi strategis yang unik dalam merespons pemain lama di tingkat lokal serta pendatang baru, seperti politeknik vokasi baru dan ekspansi kampus negeri di wilayah tersebut. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi pasar, eksternal, dan internal INSTBUNAS saat ini, mengidentifikasi kompetensi inti, dan mengusulkan strategi bisnis yang optimal untuk meningkatkan pendaftaran mahasiswa baru. Penelitian ini menerapkan pendekatan manajemen strategis kontemporer dengan desain metode campuran (mixed-methods) deskriptif-kualitatif dan kuantitatif yang berlandaskan pada kerangka kerja Design Thinking, yang mencakup tahapan Empathize, Define, Ideate, dan Prototype. Data kuantitatif primer dikumpulkan melalui survei digital terhadap 128 responden calon mahasiswa di Majalengka, didominasi oleh Gen Z, yang dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan Analisis Klaster K-Means. Data kualitatif primer diperoleh melalui wawancara mendalam semi-terstruktur dengan pemangku kepentingan institusi utama, termasuk rektorat, dekan, dan kepala program studi, serta observasi lapangan langsung. Data sekunder diekstraksi dari Badan Pusat Statistik (BPS), Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti), dan basis data kementerian untuk menganalisis tren makro-lingkungan, dinamika industri, dan kinerja pesaing. Lingkungan eksternal dievaluasi menggunakan analisis PESTEL, Lima Kekuatan Porter (Porter's Five Forces), dan benchmarking pesaing, sedangkan lingkungan internal dinilai melalui Analisis Rantai Nilai (Value Chain) dan kerangka kerja VRIO untuk menentukan keunggulan kompetitif yang berkelanjutan. Analisis-analisis tersebut disintesis ke dalam Analisis SWOT, yang selanjutnya memandu perumusan alternatif strategis menggunakan Matriks TOWS untuk mengidentifikasi strategi tingkat bisnis yang terbaik. Analisis pasar menunjukkan bahwa pasar sasaran sangat didominasi oleh lulusan SMA dan SMK (Gen Z) dari latar belakang pendapatan rendah hingga menengah di wilayah lokal Majalengka. Analisis klaster K-Means mengidentifikasi sembilan segmen psikografis berbeda, yang kemudian dikonsolidasikan menjadi kelompok sasaran yang dapat ditindaklanjuti. Saat ini, INSTBUNAS menyasar segmen pragmatis yang mencari efisiensi biaya, peluang beasiswa, dan struktur jadwal yang fleksibel. Analisis eksternal menunjukkan persaingan industri yang tinggi, diperparah oleh ekspansi universitas negeri dan alternatif pembelajaran daring. Kekuatan tawar-menawar pembeli juga tinggi karena sensitivitas biaya dan melimpahnya pilihan. Analisis internal mengidentifikasi sumber daya utama, seperti metode pembelajaran hibrida daring/luring, biaya kuliah terjangkau mulai dari Rp500.000 per bulan, dan berbagai penawaran beasiswa (seperti KIP-Kuliah, Tahfidz Quran, dan beasiswa yayasan) sebagai aset yang berharga. Namun, masih terdapat kesenjangan dalam hal dosen praktisi yang berorientasi pada teknopreneurship dan visibilitas merek digital. Berdasarkan proses pencocokan Matriks TOWS, penelitian ini mengusulkan strategi tingkat bisnis kepemimpinan biaya dan diferensiasi yang terintegrasi (Integrated Cost Leadership and Differentiation - ICD) sebagai jalur optimal bagi INSTBUNAS. Strategi hibrida ini memungkinkan institusi untuk mempertahankan biaya rendah (keterjangkauan biaya dan model pembayaran cicilan) sekaligus membangun diferensiasi yang unik melalui pembelajaran hibrida yang fleksibel, kurikulum yang selaras dengan industri, dan identitas teknopreneurship yang terarah. Pernyataan posisi yang diusulkan mendefinisikan INSTBUNAS sebagai perguruan tinggi swasta yang terjangkau, fleksibel, dan berorientasi karir yang mendorong mobilitas sosial dan daya kerja lulusan. Untuk mengoperasionalkan strategi ini, cetak biru dan peta jalan implementasi operasional lima tahun telah dirumuskan. Penelitian ini berkontribusi pada bidang manajemen strategis dengan mendemonstrasikan bagaimana kerangka kerja Design Thinking yang berpusat pada manusia dapat diintegrasikan dengan segmentasi pasar kuantitatif (Klaster K-Means) dan alat strategis klasik (VRIO, Value Chain, TOWS) untuk memecahkan tantangan pendaftaran mahasiswa dan persaingan di perguruan tinggi swasta regional.