BAB 1 Nur Bintang Farhan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 2 Nur Bintang Farhan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 3 Nur Bintang Farhan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 4 Nur Bintang Farhan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 5 Nur Bintang Farhan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
PUSTAKA Nur Bintang Farhan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Feromangan merupakan paduan logam yang umum digunakan dalam industri baja
sebagai deoxidizer dan desulfurizer, sehingga sekitar 90% mangan global
digunakan sebagai unsur pemadu pada industri baja. Secara konvensional, paduan
feromangan umumnya diproduksi menggunakan teknologi Submerged Arc
Furnace (SAF) dan Blast Furnace (BF). Namun, teknologi BF menggunakan kokas
dalam jumlah tinggi sekitar 1,5 hingga 2 ton untuk setiap feromangan yang
diproduksi (5 hingga 6 kali lebih banyak dibandingkan dengan teknologi SAF). Hal
ini mengakibatkan sekitar 1,8–3,6 ton CO2 dihasilkan per ton FeMn. Tingginya
emisi CO2 yang dihasilkan mendorong pengembangan teknologi yang lebih ramah
lingkungan. Hydrogen Plasma Smelting Reduction (HPSR) merupakan teknologi
yang menjanjikan untuk produksi feromangan melalui kombinasi gas hidrogen dan
karbon dengan potensi emisi yang lebih rendah daripada proses konvensional.
Simulasi termodinamika dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak
FactSage 8.3 untuk menganalisis kestabilan fasa serta kemungkinan jalur reaksi
pada proses reduksi pirolusit dalam atmosfer hidrogen dan penambahan karbon.
Sedangkan tahap eksperimen dimulai dengan karakterisasi bijih pirolusit dan bijih
besi limonit menggunakan X-ray diffraction (XRD) dan X-ray fluorescence (XRF).
Kemudian, 1 gram briket dengan campuran bijih mangan, bijih besi limonit, pati,
dan grafit dikompaksi. Briket selanjutnya direduksi dalam reaktor HPSR dengan
variasi stoikiometri 0,25-1, durasi 90-180 detik, dan penambahan bijih besi limonit
0-10% berat. Produk dikarakterisasi menggunakan SEM-EDS.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa stoikiometri karbon berpengaruh signifikan
terhadap morfologi dan komposisi produk, dengan stoikiometri karbon 0,5
memberikan hasil terbaik dengan kadar Mn mencapai 86,35% brt dan kehilangan
berat 71,04%. Sementara stoikiometri 0,25 menghasilkan produk yang masih
didominasi oleh MnO, stoikiometri 0,75 serta 1,0 tidak meningkatkan kadar Mn
dalam logam secara signifikan. Pada stoikiometri karbon optimum, peningkatan
durasi reduksi dari 90 detik hingga 180 detik secara umum dapat meningkatkan
kadar Mn yang terbentuk pada fasa logam dari 73,2% brt menjadi 83,89% brt, serta
meningkatkan ukuran logam. Penambahan 10% berat bijih besi limonit dapat
memperbesar ukuran fasa logam yang terbentuk karena berperan sebagai metal
phase collector, tetapi menurunkan kadar Mn dalam fasa logam dari 83–86% brt
menjadi 41–45% brt. Temuan ini memberikan bukti bahwa kombinasi reaksi
karbotermik dan plasma hidrogen dapat menghasilkan paduan feromangan
berkadar Mn tinggi melalui proses yang
Perpustakaan Digital ITB