Teluk Jakarta merupakan perairan yang rentan terhadap algal bloom sehingga
memerlukan sistem peringatan dini yang proaktif. Penelitian ini memprediksi algal
bloom menggunakan arsitektur deep learning bidirectional stacked long short-term
memory (BS-LSTM) serta menganalisis parameter pemicunya. Data diperoleh dari
satelit Himawari-8/9 periode 2020-2025 pada 28 stasiun dengan resolusi harian
yang optimal untuk mereduksi noise. Hasil menunjukkan dua puncak musiman
pada Februari dan Juni yang dipengaruhi oleh debit sungai dan suplai nutrien dari
tiga belas sungai, dengan Sungai Cisadane, Cikarang Bekasi Laut, dan Citarum
sebagai penyumbang debit tertinggi, serta muara urban kecil seperti Muara Baru
dan Muara Angke yang membawa konsentrasi hara lebih tinggi ke pesisir.
Intensitas algal bloom didominasi kategori low risk (10-20 mg/m³) dengan kejadian
tertinggi di stasiun B7 sebanyak 777 hari kejadian. Durasi beruntun rata-rata
berkisar 1-1,5 hari, maksimum rata-rata di stasiun B7 2,5 hari dengan maksimum
mencapai 11 hari di yang berpotensi meningkatkan risiko hipoksia. Korelasi spasial
klorofil-a tertinggi terjadi antara inner bay dan nearshore (r = 0,68), sedangkan
terendah antara inner bay dan outer bay (r = 0,22). Perbandingan hasil pengujian
menunjukkan skenario 3 sebagai skenario terbaik dengan data latih lima tahun yang
menghasilkan korelasi global 0,367, koefisien determinasi 0,122, bias -0,285 dan
RMSE 1,546 mg/m³, mengungguli performa skenario 1 (r = 0,356, RMSE = 1,566
mg/m³, bias = -0.339) dan skenario 2 (r = 0,362, RMSE = 1,549 mg/m³, bias = -0.291). Kurva pembelajaran tidak menunjukkan overfitting, namun prediksi
cenderung underestimate dan smoothing pada nilai ekstrem, dengan performa
spasial terbaik di zona offshore barat. Model klasifikasi berbasis ambang dinamis
terbaik di stasiun B7 dengan precision 0,72, recall 0,247, dan F1-score 0,367,
meskipun masih dipengaruhi ketidakseimbangan data. Stasiun B7 menunjukkan
bahwa pada Februari dinamika dipengaruhi debit sungai Citarum dengan jeda 10
hari (r = 0,43) serta fosfat harian dengan jeda 3 hari (r = 0,78), sedangkan pada
Oktober dipengaruhi kecepatan angin dengan jeda 4 hari (r = 0,46) dan suhu
permukaan laut yang lebih hangat dengan jeda 2 hari (r = 0,45). Hasil ini
menunjukkan bahwa pendekatan BS-LSTM berpotensi mendukung pemantauan
kualitas perairan pesisir secara lebih proaktif.
Perpustakaan Digital ITB