digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Jerawat (acne vulgaris) merupakan salah satu permasalahan kulit yang paling umum dan bersifat inflamasi kronis, ditandai oleh peningkatan produksi sebum, kolonisasi bakteri, serta aktivasi respon imun bawaan dan adaptif. Proses inflamasi yang terjadi pada jerawat memicu pelepasan berbagai mediator proinflamasi dan stres oksidatif yang tidak hanya memperparah kerusakan jaringan kulit, tetapi juga berperan penting dalam aktivasi melanosit. Kondisi ini menyebabkan peningkatan sintesis dan distribusi melanin yang berujung pada Post-Inflammatory Hyperpigmentation (PIH), yang sering muncul sebagai bekas gelap jerawat. Pendekatan kosmetik konvensional umumnya menargetkan penghambatan enzim tirosinase atau produksi melanin semata, tanpa mengatasi inflamasi sebagai penyebab utama PIH, serta sering menggunakan bahan sintetis yang berpotensi menimbulkan iritasi dan efek samping jangka panjang. Oleh karena itu, diperlukan strategi alternatif yang lebih aman dan efektif dengan menekan inflamasi sekaligus menurunkan hiperpigmentasi. Salah satu kandidat yang menjanjikan adalah Plant-Derived Exosome-Like Nanoparticles (PDEN), yaitu nanopartikel vesikular bermembran lipid yang berasal dari tumbuhan dan mengandung muatan bioaktif alami. Dibandingkan eksosom mamalia, PDEN memiliki keunggulan dari sisi keamanan, biokompatibilitas, kemudahan produksi, serta risiko imunogenisitas yang lebih rendah. Buah jamblang (Syzygium cumini) dikenal kaya akan antosianin, flavonoid, dan senyawa fenolik dengan aktivitas antioksidan dan antiinflamasi yang tinggi, namun pemanfaatannya sebagai sumber PDEN belum pernah dieksplorasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi PDEN dari buah jamblang sebagai agen antiinflamasi dan anti-hiperpigmentasi secara in vitro pada sel makrofag mencit RAW 264.7 dan sel melanoma mencit B16. PDEN jamblang diisolasi menggunakan dua pendekatan, yaitu metode presipitasi PEG dan metode filtrasi vakum. Karakterisasi dilakukan melalui analisis ukuran partikel dan indeks polidispersitas menggunakan particle size analyzer (PSA) dan nanoparticle tracking analysis (NTA), serta pengamatan morfologi menggunakan transmission electron microscopy (TEM). Selain itu dilakukan analisis stabilitas penyimpanan dan pengujian kandungan protein menggunakan Liquid Chromatography–High-Resolution Mass Spectrometry (LC-HRMS). Aktivitas antibakteri terhadap bakteri jerawat dilakukan menggunakan metode microdillution dan aktivitas antioksidan dianalisis menggunakan DPPH assay. Uji sitotoksisitas menggunakan MTT assay dan internalisasasi PDEN dilakukan terhadap sel makrofag RAW 264.7 dan sel melanoma B16. Sel RAW 264.7 adalah lini sel makrofag mencit yang digunakan sebagai model inflamasi karena responsif terhadap stimulasi LPS dan menghasilkan mediator proinflamasi. Sel B16 adalah lini sel melanoma mencit yang digunakan sebagai model melanogenesis karena mampu memproduksi melanin dan responsif terhadap induksi pigmentasi. Aktivitas antiinflamasi pada sel RAW 264.7 yang diinduksi LPS dianalisis melalui pengukuran produksi Nitric Oxide (NO) dan IL-6 ELISA Assay. Aktivitas antihiperpigmentasi dievaluasi pada sel B16 melalui pengukuran kadar melanin dan aktivitas enzim tirosinase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PDEN jamblang berhasi diisolasi menggunakan metode PEG6000 memiliki ukuran partikel berkisar antara 130–185 nm sedangkan PDEN jamblang yang diisolasi menggunakan metode vakum filter menghasilkan ukuran partikel antara 200-300 nm. Morfologi PDEN jamblang berbentuk sferis dengan struktur lipid bilayer yang jelas. PDEN jamblang menunjukkan stabilitas yang baik selama satu bulan penyimpanan pada suhu -20°C dan dalam kondisi serbuk setelah proses lioflisasi atau freeze drying. Uji antioksidan menunjukkan aktivitas penangkapan radikal bebas yang kuat dengan nilai IC?? sebesar 16,23 ?g/mL pada PDEN segar dan 15,62 ?g/mL pada PDEN freeze dried. PDEN jamblang juga menunjukkan aktivitas antibakteri yang kuat terhadap bakteri penyebab jerawat, dengan nilai minimum inhibitory concentration (MIC) sebesar 10 ?g/mL terhadap Staphylococcus epidermidis dengan inhibisi 68,8%, serta 320 ?g/mL terhadap Staphylococcus aureus dan Cutibacterium acnes dengan masing-masing inhibisi 33,2% dan 25,2%. PDEN jamblang bersifat tidak toksik terhadap sel RAW 264.7 dan B16 yang ditunjukkan dengan nilai vibilitas selnya di atas 70% pada seluruh konsentrasi uji (5-100 ?g/mL). Pengamatan menggunakan mikroskop confocal menunjukkan bahwa PDEN jamblang terinternalisasi secara efektif oleh sel RAW 264.7 dan sel B16 sejak 3 jam inkubasi. Pada sel RAW 264.7 yang distimulasi LPS, PDEN jamblang secara signifikan mampu menurunkan produksi NO hingga 47,0% (p < 0.001) serta menekan sekresi IL-6 sebesar 63,35% (p < 0.0001) pada konsentrasi 5 ?g/mL. Pada sel melanoma B16, PDEN jamblang secara signifikan menghambat melanogenesis yang diinduksi forskolin dengan menurunkan kadar melanin sebesar 35% (p < 0.05)dan aktivitas tirosinase masing-masing sebesar 34.34% (p < 0.0001) pada konsentrasi 5 ?g/mL. Dengan demikian, berdasarkan hasil penelitian ini, PDEN dari buah jamblang memiliki aktivitas antioksidan, antiinflamasi, antihiperpigmentasi, dan antibakteri. Penelitian ini berpotensi memberikan kontribusi terhadap pengembangan bahan aktif nanokosmetik yang lebih aman dan efektif untuk penanganan jerawat dan hiperpigmentasi pascainflamasi. Kebaruan penelitian ini terletak pada pemanfaatan buah jamblang sebagai sumber PDEN serta pendekatan integratif yang menargetkan inflamasi dan hiperpigmentasi secara simultan.