Abstrak - Regina Lysandra
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Pemanfaatan bahan alami sebagai formulasi aktif produk kosmetik terus mengalami peningkatan, terutama melalui penerapan teknologi fermentasi guna mengoptimalkan bioavailabilitas senyawa fungsionalnya. Kombucha merupakan produk fermentasi berbasis konsorsium Symbiotic Culture of Bacteria and Yeast (SCOBY) yang kaya akan metabolit fungsional. Daun kelor (Moringa oleifera) berpotensi besar sebagai bahan baku alternatif karena melimpahnya kandungan senyawa bioaktif seperti fenol dan flavonoid yang memiliki aktivitas antioksidan serta antimikroba untuk menjaga kesehatan kulit. Kendati demikian, penelitian mengenai optimasi konsentrasi daun kelor untuk memaksimalkan kadar fenol dan flavonoid, serta korelasinya terhadap efektivitas antimikroba terhadap patogen kulit masih sangat terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menentukan: (1) pengaruh variasi konsentrasi daun kelor terhadap proses fermentasi kombucha optimum, (2) konsentrasi daun kelor dan waktu fermentasi untuk menghasilkan kadar total fenol dan flavonoid tertinggi, serta (3) konsentrasi daun kelor dan waktu fermentasi untuk menghasilkan aktivitas antimikroba terbaik terhadap bakteri uji. Rancangan penelitian menggunakan variasi konsentrasi daun kelor sebesar 5 g/L, 8 g/L, dan 10 g/L. Fermentasi dilakukan dalam volume 250 mL dengan penambahan starter kombucha 10% (v/v), SCOBY 3% (w/v), dan sukrosa 10% (w/v), kemudian diinkubasi pada suhu 20–27°C selama 14 hari setelah melalui tahap adaptasi SCOBY dari media teh hitam. Parameter yang diuji meliputi perubahan pH, pertambahan berat SCOBY, dinamika populasi mikroba dengan Total Plate Count (TPC) pada medium GYCA, MRSA, dan PDA, kadar gula pereduksi dengan metode 3,5-dinitrosalicylic acid (DNS), serta total asam tertitrasi melalui titrasi asam-basa. Kuantifikasi senyawa bioaktif dilakukan melalui pengujian kadar total fenol (Folin-Ciocalteu) dan kadar total flavonoid (Kolorimetri Aluminium Klorida). Sementara itu, pengujian aktivitas antimikroba dilakukan menggunakan metode Kirby-Bauer. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi daun kelor 10 g/L merupakan kondisi terbaik dalam mendukung pertumbuhan biomasa SCOBY, dengan nilai pertambahan berat tertinggi dari 17,25 gram. Selama proses fermentasi, terjadi suksesi mikroba yang diawali oleh dominasi ragi pada awal fermentasi (log 5,68 CFU/mL). Keseimbangan suksesi mikroba yang stabil tercapai pada hari ke-10, ditandai dengan densitas bakteri asam asetat sebesar log 7,58 CFU/mL dan ragi log 7,46 CFU/mL. Pada hari ke-14, bakteri asam asetat mendominasi media dengan densitas log 6,79 CFU/mL, diikuti bakteri asam laktat (log 6,75 CFU/mL) dan ragi (log 6,54 CFU/mL). Konsentrasi daun kelor 10 g/L juga memberikan akumulasi senyawa bioaktif dan aktivitas antimikroba yang paling optimal. Kadar total fenol tertinggi dicapai pada hari ke-12 fermentasi sebesar 338,75 mg GAE/L, sedangkan kadar total flavonoid tertinggi dicapai lebih awal pada hari ke-2 sebesar 98,64 mg QE/L. Aktivitas antimikroba terbaik ditunjukkan oleh sediaan SCOBY; konsentrasi 10 g/L efektif menghambat S. epidermidis ATCC 12228 (zona hambat 13,88 mm) dan S. aureus ATCC 6638 (zona hambat 14,29 mm). Sementara itu, konsentrasi 8 g/L paling efektif menghambat P. acnes ATCC 11827 dengan zona hambat sebesar 13,93 mm. Ketiga nilai zona hambat tersebut tergolong dalam kategori kuat. Total asam tertitrasi tertinggi diperoleh pada hari ke-14 sebesar 132,5 mM, dan hasil analisis korelasi Pearson menunjukkan bahwa daya hambat antimikroba berkorelasi kuat dengan peningkatan total asam tersebut. Kesimpulannya, kombucha daun kelor memiliki potensi yang sangat tinggi untuk dikembangkan secara luas sebagai bahan baku fungsional dalam industri kosmetik.
Perpustakaan Digital ITB