2026 SK PP Final Project Seintani Zalukhu_19223009
Terbatas Jufrizal Effendi, S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Jufrizal Effendi, S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan
Ekosistem kewirausahaan Indonesia telah berkembang pesat pada sektor startup teknologi, namun kualitas dan pemerataan layanan pendukung seperti inkubasi masih menjadi tantangan, terutama mengingat adanya perbedaan model kelembagaan inkubator. Kesenjangan ini terlihat jelas di Kota Bandung, yang menjadi rumah bagi dua inkubator dengan logika kelembagaan yang berbeda dalam kerangka Triple Helix: The Greater Hub SBM ITB (Academic-to-Business/A2B) dan Garuda Spark Innovation Hub Bandung (Government-to-Business/G2B). Belum ada penelitian yang secara sistematis mengeksplorasi bagaimana perbedaan kelembagaan tersebut membentuk persepsi kualitas mentoring dan kontribusinya terhadap budaya inovasi pada kedua model tersebut. Penelitian ini mengeksplorasi kedua kasus untuk memahami bagaimana alumni startup tahap awal mempersepsikan kualitas mentoring formal serta kontribusinya terhadap budaya inovasi di dalam startup mereka. Dengan menggunakan pendekatan qualitative multiple-case study, 12 alumni startup tahap awal (6 dari TGH, 6 dari GSIH) dipilih melalui purposive sampling berdasarkan kriteria informan yang telah ditetapkan. Data dari wawancara semi-terstruktur dan kajian dokumen dianalisis menggunakan Reflexive Thematic Analysis pada masing-masing kasus, dilanjutkan dengan cross-case analysis, yang dipandu oleh lima dimensi kualitas mentoring dan empat dimensi budaya inovasi. Temuan menunjukkan TGH dipersepsikan lebih unggul dalam kompetensi mentor dan akses jaringan formal-institusional, namun lebih lemah dalam kualitas relasi dan intensitas interaksi akibat format daring dan rasio mentor-startup yang tinggi. GSIH dipersepsikan lebih unggul dalam kualitas relasi, intensitas interaksi, dan jaringan komunitas yang organik, namun terbatas dalam relevansi materi bagi startup tahap lanjut. Kedua model sama-sama mendorong kepemimpinan founder yang partisipatif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa perbedaan kelembagaan menghasilkan pola mentoring yang saling melengkapi, bukan saling menggantikan. Rekomendasi mencakup penambahan sesi tatap muka dan segmentasi berdasarkan tahap kematangan bagi TGH, pendalaman kurikulum dan pengelolaan jadwal yang lebih baik bagi GSIH, serta pemanfaatan kedua inkubator secara komplementer oleh founder. Penelitian selanjutnya disarankan memperluas eksplorasi multiple-case ini dan melibatkan perspektif mentor serta pengelola program.
Perpustakaan Digital ITB