digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Hippopotamidae diketahui pernah hidup di Pulau Jawa berdasarkan keberadaan fosil-fosilnya. Beberapa peneliti telah mendeskripsikan dan menyimpulkan bahwa terdapat tiga spesies Hippopotamidae di Pulau Jawa, tetapi ada juga yang berpendapat bahwa ketiga jenis Hippopotamidae tersebut adalah spesies yang sama. Perbedaan ini memunculkan diskusi lebih lanjut mengenai spesies apa yang pernah hidup di Pulau Jawa di masa lalu. Dua puluh satu spesimen fosil Hippopotamidae (termasuk dua belas spesimen yang baru ditemukan dan spesimen yang belum dideskripsi sebelumnya) yang dikumpulkan dari beberapa lokasi dan posisi stratigrafi di Jawa dianalisis dan dibandingkan dengan hasil penelitian sebelumnya. Analisis paleontologi kualitatif dan kuantitatif kemudian analisis geologi dilakukan pada studi fosil Hippopotamidae ini. Hasil analisis dari morfologi tengkorak dan gigi menunjukkan bahwa semua fosil Hippopotamidae di Pulau Jawa berasal dari genus Hexaprotodon. Bukti kami menunjukkan bahwa terdapat dua jenis Hexaprotodon di Jawa, yaitu Hexaprotodon yang relatif kecil pada periode awal Pleistosen Awal (Gelasian) - akhir Pleistosen Awal (Calabrian) – Pleistosen Tengah (Chibanian), dan Hexaprotodon yang lebih besar dari periode Chibanian akhir-Pleistosen akhir. Berdasarkan anatominya, Hexaprotodon kecil dari Jawa disebut Hexaprotodon sivajavanicus merupakan turunan dari Hexaprotodon sivalensis dari India sedangkan Hexaprotodon besar dari Jawa disebut Hexaprotodon megakendengensis sebagai hasil evolusi dari Hexaprotodon sivajavanicus selama masa Pleistosen di Pulau Jawa. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa mendinginnya iklim dunia selama masa Pleistosen yang berimplikasi pada berkembangnya sistem sungai dan padang rumput di Pulau Jawa pada masa Gelasian-Pleistosen Akhir. Di awal Pleistosen Hexaprotodon sivajavanicus hidup di lingkungan hutan rawa yang lebih tertutup yang kemudian berubah menjadi Hexaprotodon megakendengensis ketika lingkungan hidup di Pulau Jawa berubah menjadi lingkungan fluviatil savana yang lebih terbuka di Pleistosen Akhir.