Penggunaan kecerdasan buatan di pendidikan tinggi menciptakan situasi yang sulit bagi
pimpinan universitas. Masalah ini sangat jelas terlihat pada Perguruan Tinggi Negeri
Badan Hukum (PTN BH) yang otonom di Indonesia. Pemerintah dan industri teknologi
mendorong universitas-universitas ini untuk mengadopsi alat digital dengan cepat. Pada
saat yang sama, universitas harus menangani risiko kecurangan mahasiswa dan
penurunan pemikiran kritis. Studi studi sebelumnya telah menjelaskan masalah tata kelola
ini. Namun, penelitian sebelumnya tidak menyediakan alat berbasis data untuk
memprediksi masa depan. Perencanaan skenario tradisional biasanya bergantung pada
pendapat pribadi dari pakar. Metode kualitatif ini sering melewatkan tren penting dari
masyarakat umum dan dalam tingkat makro. Selanjutnya, tidak jelas siapa yang memiliki
tanggung jawab untuk membuat aturan etika bagi kecerdasan buatan. Oleh karena itu,
terdapat kebutuhan ilmiah yang jelas akan kerangka kerja yang objektif untuk membantu
pimpinan universitas merencanakan masa depan dan melindungi aturan akademik.
Tujuan utama dari penelitian ini adalah membangun kerangka pandangan ke depan
strategis berbasis data untuk pendidikan tinggi. Studi ini menggunakan dua sumber data
utama. Pertama, media berita daring digunakan untuk melihat agenda nasional dari
pemerintah dan industri. Kedua, jurnal akademik digunakan untuk melihat apa yang
sedang dilakukan oleh peneliti universitas. Hipotesis penelitian ini adalah bahwa
penggabungan penambangan teks dan analisis jaringan pada kedua sumber data ini dapat
menemukan ketidakpastian utama dari penggunaan kecerdasan buatan. Penelitian ini
bertujuan untuk mengubah diskusi publik dan akademik yang bising menjadi skenario
masa depan yang jelas. Kerangka kerja ini akan membantu universitas bergerak dari
pembeli teknologi yang reaktif menjadi manajer aktif bagi lingkungan pendidikan mereka.
Untuk mencapai tujuan tersebut, studi ini menggunakan desain metode campuran yang
dibagi ke dalam empat tahapan yang jelas. Tahap pertama adalah pengumpulan data.
Peneliti mengumpulkan 6.844 artikel berita daring dan 304 abstrak jurnal akademik yang
diterbitkan pada tahun 2025. Tahap kedua adalah analisis teks. Sistem menghitung
Frekuensi Term yang Dinormalisasi dan menggunakan Kesamaan Kosinus untuk
mengelompokkan teks ke dalam topik topik. Untuk menyelesaikan batas memori
kecerdasan buatan, sistem menggunakan metode pengambilan sampel pintar berdasarkan
Relevansi Marjinal Maksimal. Model AI Generatif kemudian merangkum sampel teks
tersebut. Setelah itu, peneliti memeriksa hasilnya secara manual dan menggunakan model
BERT untuk analisis sentimen guna mengoreksi kesalahan mesin. Pada tahap ketiga,
Pengenalan Entitas Bernama menemukan aktor aktor utama di dalam teks. Peneliti
kemudian mengelompokkan topik topik tersebut secara manual menggunakan kerangka PESTEL. Tahap akhir menggunakan Analisis Jaringan Sosial dan Analisis Jaringan
Wacana untuk memetakan hubungan antara pemerintah, industri, dan universitas.
Hasil penelitian menunjukkan adanya keterputusan yang jelas antara sektor publik dan
akademik. Analisis jaringan menunjukkan bahwa aktor pemerintah dan perusahaan
sepenuhnya mengendalikan agenda berita. Mereka berfokus pada pembangunan
infrastruktur teknologi yang besar. Sebaliknya, data jurnal menunjukkan bahwa peneliti
universitas hanya berfokus pada eksperimen kelas berskala kecil. Mereka mengabaikan
kebutuhan akan perencanaan tata kelola di tingkat universitas. Berdasarkan temuan
temuan ini, studi ini menemukan dua ketidakpastian utama. Pertama adalah Tata Kelola
Algoritmik melawan Penurunan Epistemologis. Kedua adalah Kelincahan Pedagogis
melawan Kesenjangan Kemampuan. Kedua variabel ini menciptakan matriks 2x2 dengan
empat skenario masa depan. Skenario skenario tersebut adalah Akademi Berdaulat, Era
Bebas Inovasi, Silo Defensif, dan Keruntuhan Digital.
Kontribusi utama dari penelitian ini adalah sebuah jembatan metodologis baru. Penelitian
ini mengubah perencanaan skenario dari tebakan subjektif pakar menjadi ilmu
pengetahuan objektif yang berbasis data. Secara praktis, penelitian ini memberikan
panduan kebijakan yang jelas bagi pimpinan universitas. Studi ini memberikan
rekomendasi spesifik bagi universitas untuk membuat regulasi mereka sendiri, melindungi
data mereka, dan mengelola penggunaan kecerdasan buatan dengan benar.
Perpustakaan Digital ITB