COVERVANNY NARITA
EMBARGO  2029-07-16 
EMBARGO  2029-07-16 
Indonesia menghadapi paradoks struktural dalam sektor farmasi nasionalnya:
negara ini mengelola skema asuransi kesehatan pembayar tunggal terbesar di dunia
— Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) — namun tetap sangat bergantung pada
produk obat biologis impor yang biayanya terus meningkat dan mengancam
keberlanjutan fiskal sistem tersebut dalam jangka panjang. Sementara negaranegara
pembanding seperti Korea Selatan, India, Iran, Brasil, dan Tiongkok telah
berhasil atau sedang secara cepat membangun industri biosimilar domestik yang
kompetitif, Indonesia hingga saat ini belum memiliki jalur akselerasi biosimilar
yang terpadu, tervalidasi oleh pemangku kepentingan, dan berbasis analisis yang
kuat. Tesis ini hadir untuk menjawab kesenjangan tersebut.
Tujuan umum penelitian ini adalah merancang paket intervensi strategis guna
mempercepat industri biosimilar nasional Indonesia, dengan mengubah peluang
pasar dan kebutuhan yang belum terpenuhi akan obat biologis terjangkau menjadi
sumber pertumbuhan ekonomi baru sekaligus memperkuat kemandirian farmasi
nasional. Lima sasaran penelitian memandu kajian ini: menyusun peta pemangku
kepentingan menggunakan kerangka Power–Interest Grid; mengidentifikasi dan
mengkategorikan hambatan kritis; merancang paket intervensi multi-pilar yang
tervalidasi bersama mitra kunci; memodelkan dampak ekonomi dan fiskal secara
kuantitatif; serta mengembangkan peta jalan akselerasi nasional dengan periode
implementasi bertahap 2026–2035.
Penelitian ini menggunakan desain mixed-methods sequential explanatory, yang
mengintegrasikan survei kuesioner terstruktur terhadap 10 perusahaan terkait
farmasi, wawancara semi-terstruktur dengan 25 informan institusional, survei
kuesioner terstruktur terhadap 50 responden yang dipilih secara purposif, dua sesi
diskusi kelompok terfokus (focus group discussion) beserta lokakarya ko-desain,
serta pemodelan ekonomi input–output yang dikalibrasi berdasarkan data sektoral
Indonesia dan data klaim JKN.
Temuan penelitian menunjukkan bahwa ekosistem biosimilar Indonesia
dikendalikan oleh koalisi saling ketergantungan antara aktor negara, badan usaha
milik negara, dan lembaga regulasi, bukan oleh satu institusi dominan tunggal. Tiga
klaster hambatan yang saling terkait — ketiadaan infrastruktur biomanufaktur,
kesenjangan sumber daya manusia yang kritis, serta arsitektur regulasi dan tata
kelola yang terfragmentasi — secara bersama-sama membentuk kendala mengikat
vi
(binding constraints) bagi pengembangan industri. Sebagai respons, penelitian ini
merancang Paket Intervensi Tiga Pilar dengan Dimensi Transformasi Digital, yang
mencakup modernisasi teknologi manufaktur, penguatan ekosistem talenta,
reformasi kebijakan dan tata kelola, serta loncatan berbasis kecerdasan buatan.
Analisis skenario input–output menggunakan insulin sebagai produk utama
memproyeksikan bahwa implementasi penuh paket intervensi ini berpotensi
menghasilkan penghematan belanja JKN sebesar IDR 2,3–3,1 triliun per tahun,
kontribusi terhadap output PDB sebesar IDR 20–35 triliun, dan penciptaan 10.000–
15.000 lapangan kerja terampil baru pada tahun 2035.
Temuan-temuan ini disintesiskan ke dalam peta jalan akselerasi biosimilar nasional
yang berfase, mencakup Fase Fondasi (2026–2027), Fase Akselerasi (2027–2030),
Fase Konsolidasi (2030–2032), dan Fase Pemosisian Global (2032–2035), sehingga
memberikan instrumen yang praktis, teruji secara analitis, dan layak secara politis
bagi para pembuat
Perpustakaan Digital ITB