digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800


BAB 1 - Muhammad Fariz Al-Ghifary
Terbatas  Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 2 - Muhammad Fariz Al-Ghifary
Terbatas  Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 3 - Muhammad Fariz Al-Ghifary
Terbatas  Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 4 - Muhammad Fariz Al-Ghifary
Terbatas  Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 5 - Muhammad Fariz Al-Ghifary
Terbatas  Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 6 - Muhammad Fariz Al-Ghifary
Terbatas  Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan

DAFTAR PUSTAKA - Muhammad Fariz Al-Ghifary
Terbatas  Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan

Besi laterit terbentuk melalui pelapukan intensif batuan ultramafik pada kondisi iklim tropis, dengan karakteristik pelapukan yang dipengaruhi oleh komposisi mineralogi batuan dasar. Penelitian ini bertujuan membandingkan profil lateritisasi dan pola pengayaan unsur pada Blok DU, Pulau Sebuku, Kalimantan Selatan, yang tersusun atas empat jenis batuan dasar ultramafik, yaitu harzburgit (HGT), serpentinit (SPT), dunit (DNT), dan lherzolit (LZT), serta mengevaluasi representativitas data power auger terhadap core drilling. Data yang digunakan berupa hasil analisis assay terhadap delapan unsur, yaitu Fe, Ni, Co, Cr, SiO2, MgO, Al2O3, dan Ti. Data diolah menggunakan analisis statistik deskriptif, profil vertikal geokimia, analisis mass balance berupa isocon dan mass transfer dengan Ti sebagai unsur immobile acuan, serta rasio pengayaan unsur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keempat jenis batuan dasar memiliki arah proses lateritisasi yang sama, tetapi terdapat perbedaan kuantitatif pada kadar rata-rata setiap zona laterit, slope isocon, mass transfer, dan rasio pengayaan. Hal ini menunjukkan bahwa jenis batuan dasar memengaruhi besarnya perubahan geokimia, tetapi tidak mengubah arah proses lateritisasi. Data power auger menunjukkan kadar Fe, Ni, dan Co yang lebih rendah pada limonit dibandingkan core drilling, serta penyimpangan yang lebih besar pada batuan dasar yang berkaitan dengan jumlah data yang terbatas dan indikasi percampuran dengan material lapuk. Dengan demikian, data power auger masih cukup representatif untuk mendukung tahap awal eksplorasi, tetapi kurang memadai untuk menggambarkan profil laterit secara lengkap, khususnya pada batuan dasar, sehingga core drilling tetap diperlukan.