BAB 1 - Muhammad Fariz Al-Ghifary
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 2 - Muhammad Fariz Al-Ghifary
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 3 - Muhammad Fariz Al-Ghifary
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 4 - Muhammad Fariz Al-Ghifary
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 5 - Muhammad Fariz Al-Ghifary
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 6 - Muhammad Fariz Al-Ghifary
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
DAFTAR PUSTAKA - Muhammad Fariz Al-Ghifary
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Besi laterit terbentuk melalui pelapukan intensif batuan ultramafik pada kondisi
iklim tropis, dengan karakteristik pelapukan yang dipengaruhi oleh komposisi
mineralogi batuan dasar. Penelitian ini bertujuan membandingkan profil lateritisasi
dan pola pengayaan unsur pada Blok DU, Pulau Sebuku, Kalimantan Selatan, yang
tersusun atas empat jenis batuan dasar ultramafik, yaitu harzburgit (HGT),
serpentinit (SPT), dunit (DNT), dan lherzolit (LZT), serta mengevaluasi
representativitas data power auger terhadap core drilling. Data yang digunakan
berupa hasil analisis assay terhadap delapan unsur, yaitu Fe, Ni, Co, Cr, SiO2, MgO,
Al2O3, dan Ti. Data diolah menggunakan analisis statistik deskriptif, profil vertikal
geokimia, analisis mass balance berupa isocon dan mass transfer dengan Ti sebagai
unsur immobile acuan, serta rasio pengayaan unsur. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa keempat jenis batuan dasar memiliki arah proses lateritisasi yang sama,
tetapi terdapat perbedaan kuantitatif pada kadar rata-rata setiap zona laterit, slope
isocon, mass transfer, dan rasio pengayaan. Hal ini menunjukkan bahwa jenis
batuan dasar memengaruhi besarnya perubahan geokimia, tetapi tidak mengubah
arah proses lateritisasi. Data power auger menunjukkan kadar Fe, Ni, dan Co yang
lebih rendah pada limonit dibandingkan core drilling, serta penyimpangan yang
lebih besar pada batuan dasar yang berkaitan dengan jumlah data yang terbatas dan
indikasi percampuran dengan material lapuk. Dengan demikian, data power auger
masih cukup representatif untuk mendukung tahap awal eksplorasi, tetapi kurang
memadai untuk menggambarkan profil laterit secara lengkap, khususnya pada
batuan dasar, sehingga core drilling tetap diperlukan.
Perpustakaan Digital ITB