PERANCANGAN UNIT PENGOLAHAN DAN PEMANFAATAN LUMPUR PADA INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH LIMBAH DOMESTIK KOTA SEMARANG
Terbatas Maman Ruhiman
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Maman Ruhiman
» Gedung UPT Perpustakaan
Perancangan unit pengolahan dan pemanfaatan lumpur ini disusun sebagai bagian dari perencanaan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) domestik terpadu Kota Semarang yang berlokasi di Kelurahan Banjardowo, Kecamatan Genuk, dengan area pelayanan mencakup 10 kelurahan prioritas. Lumpur yang dihasilkan dari unit primary clarifier dan secondary clarifier dari MBBR memerlukan pengolahan tersendiri agar dapat dimanfaatkan kembali sesuai prinsip resource recovery, sekaligus memenuhi baku mutu lingkungan yang berlaku. Konfigurasi terpilih pada perancangan ini dipilih dari hasil evaluasi menggunakan metode Analytical Hierarchy Process-Simple Additive Weighting pada Tugas Akhir 1, yang terdiri atas gravity thickener sebagai unit pengentalan, sludge drying bed sebagai unit pengeringan alami, dan aerated static pile sebagai unit stabilisasi dan pengomposan. Perancangan dilakukan untuk dua periode operasi, yaitu Tahap 1 (2029-2038) dengan kapasitas pengolahan lumpur 1.209,49 m³/hari dan Tahap 2 (2029-2048) dengan kapasitas 2.552,66 m³/hari. Seluruh unit dirancang secara modular sehingga penambahan kapasitas pada Tahap 2 dapat dilakukan tanpa mengubah dimensi dan konfigurasi unit yang telah beroperasi sejak Tahap 1. Produk akhir pengolahan lumpur direncanakan dimanfaatkan melalui skema 25% sebagai kompos (7.150,36 ton/tahun) dan 75% sebagai biosolid untuk aplikasi lahan pertanian (21.452 ton/tahun). Kedua produk dirancang memenuhi persyaratan Biosolid Kelas A menurut US EPA 503 (1993). Analisis menunjukkan bahwa luas lahan yang dibutuhkan untuk memanfaatkan seluruh kompos dan biosolid lebih kecil dibandingkan luas lahan pertanian yang tersedia di Kota Semarang dan wilayah penyangganya. Dengan demikian, pemanfaatan seluruh produk tersebut secara kualitatif dapat dinilai layak dari sisi ketersediaan lahan. Berdasarkan aspek finansial, kebutuhan investasi (CAPEX) diperoleh sebesar Rp77.990.796.000,00 pada Tahap 1 dan Rp46.839.553.000,00 pada Tahap 2, sedangkan biaya operasional (OPEX) sebesar Rp6.112.452.000,00/tahun dan Rp11.325.414.000,00/tahun pada kedua tahap tersebut. Hasil analisis kelayakan menunjukkan Net Present Value positif sebesar Rp43.238.457.280, Benefit Cost Ratio sebesar 1,314, Internal Rate of Return sebesar 16%, serta payback period selama 6,755 tahun, sehingga investasi dinyatakan layak untuk dilaksanakan. Perancangan ini diharapkan mampu menghasilkan sistem pengelolaan lumpur yang efektif, memenuhi persyaratan lingkungan, serta mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, khususnya Tujuan 3, 6, 11, dan 12, melalui penerapan prinsip ekonomi sirkular pada sektor sanitasi perkotaan Kota Semarang.
Perpustakaan Digital ITB