digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Fadilah Khoirunnisa
PUBLIC Open In Flipbook Esha Mustika Dewi

Lada putih Muntok (Muntok White Pepper) merupakan komoditas rempah unggulan Indonesia yang telah memperoleh sertifikat Indikasi Geografis sejak tahun 2010. Namun, produktivitasnya terus mengalami penurunan akibat alih fungsi lahan, regenerasi petani yang rendah, dan tuntutan keberlanjutan yang semakin meningkat dari pasar global, sementara permintaan lada putih dunia diproyeksikan terus tumbuh. Kondisi tersebut turut dihadapi oleh PT Cinquer Agro Nusantara (PT CAN) sebagai salah satu perusahaan pengolah dan eksportir utama lada putih Muntok, yang menghadapi tantangan stabilitas dan kontinuitas pasokan bahan baku dari petani mitra di tengah meningkatnya tuntutan standar keberlanjutan dari pasar ekspor. Permasalahan tersebut bersifat sistemik dan melibatkan berbagai aktor di luar perusahaan, sehingga memerlukan pendekatan rantai pasok yang mengintegrasikan kolaborasi lintas pemangku kepentingan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi dan kinerja keberlanjutan rantai pasok, memetakan peran serta hubungan antar pemangku kepentingan yang terlibat dalam rantai pasok, mengidentifikasi faktor internal-eksternal yang berpengaruh, merumuskan strategi prioritas rantai pasok berkelanjutan, serta merancang model kolaborasi quadruple helix dan implementasi strategi rantai pasok berkelanjutan lada putih Muntok di PT CAN. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif yang meliputi Supply Chain Mapping, Multidimensional Scaling (MDS) Rap-Pepper, analisis stakeholder, matriks IFE-EFE, matriks SWOT-TOWS, Analytical Hierarchy Process (AHP), role-based strategy allocation, serta framework quadruple helix dan roadmap implementasi untuk perancangan model kolaborasi. Hasil penelitian menunjukkan indeks keberlanjutan rantai pasok lada putih Muntok berstatus cukup berkelanjutan pada dimensi sosial (66,67%), ekonomi (62,33%), teknologi (55,00%), dan ekologi (53,33%), sementara dimensi kelembagaan berstatus kurang berkelanjutan dengan indeks terendah (48,33%). Dua belas aktor stakeholder teridentifikasi dan terklasifikasi ke dalam empat kuadran quadruple helix, dengan PT CAN sebagai aktor fokal yang memiliki pengaruh dan kepentingan tertinggi (skor 10 dari skala 10), diikuti petani Lada Putih Muntok dengan tingkat kepentingan tertinggi (skor 10) dan pengaruh signifikan (skor 9). Analisis matriks IFE dan EFE menunjukkan skor kekuatan internal (3,782) melampaui kelemahan (1,736), sementara skor peluang eksternal (3,267) sedikit lebih tinggi dibandingkan ancaman (3,088). Hasil AHP menetapkan tiga strategi prioritas teratas dari dua belas alternatif strategi yang dianalisis, yaitu ekspansi ke buyer/pasar baru domestik dan ekspor selain Verstegen dengan bobot global 32,67%, perluasan program pemberdayaan petani untuk meredam alih fungsi lahan ke sawit dengan bobot 14,02%, dan perluasan jaringan petani binaan ke wilayah baru dengan bobot 8,60%, dengan seluruh matriks perbandingan berpasangan dinyatakan konsisten (Consistency Ratio < 10%). Model kolaborasi quadruple helix yang dirancang menempatkan PT CAN sebagai pelaksana utama, pemerintah sebagai fasilitator kebijakan, akademisi sebagai mitra inovasi, dan petani sebagai pelaksana keberlanjutan di tingkat lapangan dalam rancangan implementasi strategi yang aplikatif bagi keberlanjutan rantai pasok lada putih Muntok. Selanjutnya, model tersebut dirancang penerapannya dalam roadmap implementasi yang disusun dalam jangka waktu lima tahun yang meliputi 3 fase yaitu pembentukan fondasi implementasi, perluasan dan institusionalisasi, serta integrasi dan ekspansi.