Lada putih Muntok (Muntok White Pepper) merupakan komoditas rempah unggulan
Indonesia yang telah memperoleh sertifikat Indikasi Geografis sejak tahun 2010.
Namun, produktivitasnya terus mengalami penurunan akibat alih fungsi lahan,
regenerasi petani yang rendah, dan tuntutan keberlanjutan yang semakin meningkat
dari pasar global, sementara permintaan lada putih dunia diproyeksikan terus
tumbuh. Kondisi tersebut turut dihadapi oleh PT Cinquer Agro Nusantara (PT CAN)
sebagai salah satu perusahaan pengolah dan eksportir utama lada putih Muntok, yang
menghadapi tantangan stabilitas dan kontinuitas pasokan bahan baku dari petani
mitra di tengah meningkatnya tuntutan standar keberlanjutan dari pasar ekspor.
Permasalahan tersebut bersifat sistemik dan melibatkan berbagai aktor di luar
perusahaan, sehingga memerlukan pendekatan rantai pasok yang mengintegrasikan
kolaborasi lintas pemangku kepentingan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis
kondisi dan kinerja keberlanjutan rantai pasok, memetakan peran serta hubungan
antar pemangku kepentingan yang terlibat dalam rantai pasok, mengidentifikasi
faktor internal-eksternal yang berpengaruh, merumuskan strategi prioritas rantai
pasok berkelanjutan, serta merancang model kolaborasi quadruple helix dan
implementasi strategi rantai pasok berkelanjutan lada putih Muntok di PT CAN.
Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif yang meliputi Supply
Chain Mapping, Multidimensional Scaling (MDS) Rap-Pepper, analisis stakeholder,
matriks IFE-EFE, matriks SWOT-TOWS, Analytical Hierarchy Process (AHP),
role-based strategy allocation, serta framework quadruple helix dan roadmap
implementasi untuk perancangan model kolaborasi. Hasil penelitian menunjukkan
indeks keberlanjutan rantai pasok lada putih Muntok berstatus cukup berkelanjutan
pada dimensi sosial (66,67%), ekonomi (62,33%), teknologi (55,00%), dan ekologi
(53,33%), sementara dimensi kelembagaan berstatus kurang berkelanjutan dengan
indeks terendah (48,33%). Dua belas aktor stakeholder teridentifikasi dan
terklasifikasi ke dalam empat kuadran quadruple helix, dengan PT CAN sebagai
aktor fokal yang memiliki pengaruh dan kepentingan tertinggi (skor 10 dari skala
10), diikuti petani Lada Putih Muntok dengan tingkat kepentingan tertinggi (skor 10)
dan pengaruh signifikan (skor 9). Analisis matriks IFE dan EFE menunjukkan skor
kekuatan internal (3,782) melampaui kelemahan (1,736), sementara skor peluang
eksternal (3,267) sedikit lebih tinggi dibandingkan ancaman (3,088). Hasil AHP
menetapkan tiga strategi prioritas teratas dari dua belas alternatif strategi yang
dianalisis, yaitu ekspansi ke buyer/pasar baru domestik dan ekspor selain Verstegen
dengan bobot global 32,67%, perluasan program pemberdayaan petani untuk
meredam alih fungsi lahan ke sawit dengan bobot 14,02%, dan perluasan jaringan
petani binaan ke wilayah baru dengan bobot 8,60%, dengan seluruh matriks
perbandingan berpasangan dinyatakan konsisten (Consistency Ratio < 10%). Model
kolaborasi quadruple helix yang dirancang menempatkan PT CAN sebagai pelaksana
utama, pemerintah sebagai fasilitator kebijakan, akademisi sebagai mitra inovasi, dan
petani sebagai pelaksana keberlanjutan di tingkat lapangan dalam rancangan
implementasi strategi yang aplikatif bagi keberlanjutan rantai pasok lada putih
Muntok. Selanjutnya, model tersebut dirancang penerapannya dalam roadmap
implementasi yang disusun dalam jangka waktu lima tahun yang meliputi 3 fase yaitu
pembentukan fondasi implementasi, perluasan dan institusionalisasi, serta integrasi
dan ekspansi.
Perpustakaan Digital ITB