PT XYZ hanya mengandalkan satu unit automated guided vehicle (AGV), tanpa cadangan, untuk memindahkan material work-in-process di lantai produksi. Sepanjang Januari hingga Juni 2025 AGV ini gagal sebelas kali dan kehilangan 240 dari 1.032 jam operasi terjadwal, sehingga ketersediaannya hanya 76,7 persen, sekitar 13 poin di bawah standar pabrik 90 persen, dan tiap kegagalan memaksa lini kembali ke pemindahan manual yang lebih lambat. Penelitian ini merancang strategi preventive maintenance berbasis kekritisan komponen untuk menutup selisih ketersediaan tersebut pada satu aset kritis tanpa redundansi.
AGV dipecah menjadi 21 komponen dalam lima domain sistem, dan tiap komponen dinilai kekritisannya pada empat dimensi, yaitu frekuensi kegagalan, dampak operasional, kesulitan pemulihan, dan kemampuan deteksi, memakai Failure Mode, Effects, and Criticality Analysis yang diadaptasi bersama reliability-centered maintenance, dan panel ahli terstruktur menetapkan skornya ketika data terbatas. Empat komponen tergolong High-criticality: charging system controller, wireless communication module, drive motor, dan emergency stop circuit. Program yang dihasilkan menetapkan 54 tugas preventif untuk 21 komponen, disesuaikan dengan cara tiap komponen gagal, dan ditopang kebijakan suku cadang yang mengklasifikasikan permintaan sebagai intermittent, meramalkannya dengan Syntetos-Boylan Approximation, dan menyimpan suku cadang kritis di lokasi untuk menghapus jeda pengadaan yang selama ini memperlambat perbaikan.
Analisis skenario memproyeksikan bahwa downtime turun dari 240 ke 72 jam, ketersediaan naik ke 93,0 persen, mean time between failures lebih dari dua kali lipat dari 72 ke 160 jam, dan hari pemindahan manual menurun dari 22 ke 6. Dengan implementasi sebesar Rp 91 juta, sebagian besar investasi suku cadang sekali bayar yang balik dalam bulan pertama, terhadap sekitar Rp 4,54 miliar nilai produksi yang terselamatkan tiap tahun, dengan manfaat bersih mendekati Rp 4,35 miliar. Kontribusi penelitian ini adalah cara terstruktur dan berbasis bukti untuk memprioritaskan pemeliharaan pada satu aset kritis, dengan memusatkan usaha terbatas pada sedikit komponen yang memikul sebagian besar risiko, dan metodenya dapat dipakai pada aset kritis tunggal lain setelah parameternya diestimasi ulang dari data setempat.
Perpustakaan Digital ITB