digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Abstrak
PUBLIC Open In Flipbook Dewi Supryati

Industri garmen dan alas kaki adalah salah satu sektor utama dalam ekspor di Indonesia namun juga menjadi kontributor emisi yang signifikan. Kedua industri tersebut menghadapi tekanan untuk mengurangi karbon dalam operasi perusahaan. Berkaitan dengan hal tersebut, Renewable Energy Certificate (REC) yang diterbitkan PLN hadir sebagai instrumen fleksibel untuk klaim penggunaan EBT. Namun, penggunaan REC di sektor-sektor prioritas di Jawa Tengah masih rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor pendorong dan penghambat adopsi EBT melalui REC di level mikro, menganalisis interaksi level makro dan meso dalam membentuk dinamika tersebut, serta merumuskan strategi peningkatan adopsi REC yang kontekstual bagi PLN. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan strategi studi kasus multi-kasus. Data primer dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan 12 perusahaan sektor alas kaki dan garmen yang dipilih berdasarkan status adopsi EBT dan pembelian REC. Analisis data dilakukan menggunakan thematic analysis dan dilanjutkan dengan cross-case analysis untuk mengidentifikasi pola dan perbedaan. Temuan penelitian mengonfirmasi menemukan bahwa buyer internasional adalah pendorong utama yang mampu mengatasi hambatan mikro seperti biaya tinggi. Secara khusus, adopsi REC terhambat oleh persepsinya sebagai biaya tambahan tanpa manfaat finansial langsung, kurangnya pengetahuan teknis, dan adanya persepsi legitimasi. Dinamika ini dibentuk oleh interaksi tekanan makro dari buyer menciptakan legitimasi, sementara variasi sumber daya di level meso seperti keuangan dan pengetahuan menyaring respon, menjelaskan mengapa perusahaan dengan sumber daya kuat memilih PLTS Atap sedangkan yang terbatas memilih REC. Berdasarkan analisis tiga level yaitu makro-meso-mikro, disimpulkan bahwa strategi peningkatan adopsi REC bagi PLN harus bersifat multilevel, terintegrasi, dan berurutan. Strategi tersebut mencakup pembangunan legitimasi melalui ko-kreasi regulasi dan diplomasi di level makro, segmentasi pasar berbasis sumber daya di level meso, serta intervensi di level mikro untuk mengubah persepsi nilai dan menyederhanakan akses. Implikasinya, PLN perlu bertransformasi dari seller menjadi market builder, didukung oleh percepatan regulasi pemerintah dan peningkatan kapabilitas industri.