Industri garmen dan alas kaki adalah salah satu sektor utama dalam ekspor di
Indonesia namun juga menjadi kontributor emisi yang signifikan. Kedua industri
tersebut menghadapi tekanan untuk mengurangi karbon dalam operasi perusahaan.
Berkaitan dengan hal tersebut, Renewable Energy Certificate (REC) yang
diterbitkan PLN hadir sebagai instrumen fleksibel untuk klaim penggunaan EBT.
Namun, penggunaan REC di sektor-sektor prioritas di Jawa Tengah masih rendah.
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor pendorong dan penghambat
adopsi EBT melalui REC di level mikro, menganalisis interaksi level makro dan
meso dalam membentuk dinamika tersebut, serta merumuskan strategi peningkatan
adopsi REC yang kontekstual bagi PLN. Penelitian ini menggunakan pendekatan
kualitatif dengan strategi studi kasus multi-kasus. Data primer dikumpulkan melalui
wawancara mendalam dengan 12 perusahaan sektor alas kaki dan garmen yang
dipilih berdasarkan status adopsi EBT dan pembelian REC. Analisis data dilakukan
menggunakan thematic analysis dan dilanjutkan dengan cross-case analysis untuk
mengidentifikasi pola dan perbedaan. Temuan penelitian mengonfirmasi
menemukan bahwa buyer internasional adalah pendorong utama yang mampu
mengatasi hambatan mikro seperti biaya tinggi. Secara khusus, adopsi REC
terhambat oleh persepsinya sebagai biaya tambahan tanpa manfaat finansial
langsung, kurangnya pengetahuan teknis, dan adanya persepsi legitimasi. Dinamika
ini dibentuk oleh interaksi tekanan makro dari buyer menciptakan legitimasi,
sementara variasi sumber daya di level meso seperti keuangan dan pengetahuan
menyaring respon, menjelaskan mengapa perusahaan dengan sumber daya kuat
memilih PLTS Atap sedangkan yang terbatas memilih REC. Berdasarkan analisis
tiga level yaitu makro-meso-mikro, disimpulkan bahwa strategi peningkatan adopsi
REC bagi PLN harus bersifat multilevel, terintegrasi, dan berurutan. Strategi
tersebut mencakup pembangunan legitimasi melalui ko-kreasi regulasi dan
diplomasi di level makro, segmentasi pasar berbasis sumber daya di level meso,
serta intervensi di level mikro untuk mengubah persepsi nilai dan menyederhanakan
akses. Implikasinya, PLN perlu bertransformasi dari seller menjadi market builder,
didukung oleh percepatan regulasi pemerintah dan peningkatan kapabilitas industri.
Perpustakaan Digital ITB