digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK R.Muhammad Ghaanem
PUBLIC Open In Flipbook Esha Mustika Dewi

OXO Group Indonesia (OGI) merupakan ekosistem usaha di sektor properti dan perhotelan di Bali yang menaungi tiga entitas, yaitu induk korporat (OGI), pengembang properti (ORE), dan manajemen perhotelan (OHM). Organisasi dengan struktur unit yang terfragmentasi seperti ini cenderung menghadapi inefisiensi proses, bottleneck, duplikasi pekerjaan, serta rendahnya kejelasan peran antarfungsi. Hal ini sejalan dengan temuan penelitian bahwa pertumbuhan usaha OXO Group Indonesia belum diiringi kematangan proses bisnis antarentitas, sehingga menimbulkan duplikasi pekerjaan, ketidakjelasan peran, dan lemahnya penelusuran status pekerjaan. Penelitian ini bertujuan memetakan proses existing secara menyeluruh, mengidentifikasi aktivitas tidak bernilai tambah, serta merancang model proses usulan yang lebih terstruktur, terstandardisasi, dan terintegrasi bagi ketiga unit bisnis tersebut. Perancangan menggunakan kerangka Model-based and Integrated Process Improvement (MIPI) dengan Process Classification Framework (PCF) APQC sebagai acuan struktur proses, Value Added Assessment (VAA) untuk klasifikasi aktivitas, diagram Pareto dan fishbone untuk analisis akar penyebab, serta matriks RASCI untuk penegasan peran. Ketiga kajian berpijak pada alur kerja MIPI yang sama, namun berbeda secara teknis. Kajian sumber daya manusia menerapkan VAA berbasis complaint test tiga pertanyaan dengan responsibility assignment matrix pada sepuluh Kelompok Proses dan heuristik redesain proses, kajian pengembangan properti menggunakan VAA multikategori serta penelusuran pemborosan dan akar masalah melalui pendekatan systematic reengineering, sedangkan kajian pengadaan menggunakan tiga decision criteria Lean Six Sigma Green Belt dan pemetaan gap terhadap klausul APQC PCF procure materials and services. Hasil perancangan menunjukkan perbaikan pada ketiga domain. Pada proses sumber daya manusia, aktivitas bernilai tambah meningkat dari 54,1% menjadi 76,9% dan aktivitas tidak bernilai tambah menurun dari 14,0% menjadi 2,0%. Pada proses pengadaan, aktivitas bernilai tambah meningkat menjadi 53,40% disertai penurunan aktivitas NNVA sebesar 42,86%. Pada proses pengembangan properti, jumlah aktivitas berkurang sekitar 33% melalui otomatisasi analisis kelayakan dan penerapan BIM. Ketiga rancangan dikonsolidasikan menjadi satu sistem terintegrasi bertipe enterprise resource planning bernama OXO SuperApp yang bertumpu pada basis data terpusat, aliran data lintas modul, kejelasan peran, dan pemantauan terpusat. Sesuai batasan penelitian, keluaran berupa blueprint dan prototipe konseptual sebagai pedoman implementasi bagi perusahaan.