PT Ravelware Technology Indonesia merupakan perusahaan start-up yang
bergerak di bidang solusi Internet of Things (IoT) dan rekayasa nanomaterial, tetapi
perusahaan melihat adanya peluang pasar terkait dengan material graphene. Oleh
karena itu, perusahaan melakukan riset untuk menghasilkan metode dan mesin
pengolahan limbah plastik dan FABA (fly ash and bottom ash) menjadi material
green graphene. Riset yang dilakukan PT Ravelware Technology Indonesia
menjadikan perusahaan sebagai produsen green graphene pertama di Indonesia
dengan harga pokok penjualan terendah secara global. Perubahan model bisnis ini
menuntut adanya peningkatan kapabilitas organisasi serta penyesuaian struktur,
sistem, sumber daya manusia, dan budaya kerja agar perusahaan mampu beroperasi
secara efektif sebagai perusahaan yang menjalankan lini manufaktur. Oleh karena
itu, diperlukan suatu perancangan organisasi sehingga struktur yang dimiliki oleh
perusahaan dapat selaras dengan strategi yang menjadi arah pengembangan
perusahaan.
Metodologi penelitian mengacu pada Model STAR sebagai kerangka besar
penelitian yang akan didetailkan lebih lanjut menjadi tahapan sistematis perancagan
organisasi. Perancangan organisasi dimulai dengan menentukan tujuan organisasi
yang lebih menekankan pada efektivitas dan efisiensi. Setelah itu, dilakukan
identifikasi kondisi internal perusahaan dengan menggunakan analisis rantai nilai,
serta identifikasi lingkungan eksternal dengan kerangka yang dikembangkan oleh
Daft, menghasilkan 7 poin kelebihan, 5 poin kelemahan, 8 poin peluang, serta 6
poin ancaman. Berdasarkan kondisi internal dan eksternal perusahaan, dirumuskan
strategi korporasi dan strategi bisnis prioritas PT Ravelware Technology Indonesia
dengan menggunakan QSPM yang bobot setiap faktornya dihasilkan menggunakan
AHP, menghasilkan strategi intensif sebagai strategi korporasi dan strategi bestvalue
sebagai strategi bisnis perusahaan. Selanjutnya, dirumuskan strategi
fungsional menggunakan matriks TOWS yang menghasilkan 19 alternatif strategi
fungsional yang diagregasikan menjadi 6 strategi fungsional yang relevan dengan
kebutuhan perusahaan terkait dengan pengembangan produk graphene. Strategi
fungsional selanjutnya dipetakan menjadi kapabilitas organisasi yang dibutuhkan
perusahaan atau kriteria desain organisasi, menghasilkan 5 departemen, dan 17
divisi dengan keterangan 6 divisi usulan baru dan 11 divisi aktual perusahaan.
Selanjutnya, setiap divisi dipetakan proses bisnis yang relevan dengan kerangka
Process Classification Framework cross-industry. Terakhir, ditentukan pihak
penanggung jawab dari setiap aktivitas, serta key performance indicators untuk
mengontrol setiap aktivitas dapat mendukung ketercapaian strategi perusahaan.
Perpustakaan Digital ITB