Penelitian ini bertujuan untuk merancang model sistem pengawasan makanan dalam kemasan berbasis risiko guna membantu penentuan prioritas perusahaan yang perlu diawasi. Permasalahan penelitian dilatarbelakangi oleh keterbatasan sumber daya pengawasan serta adanya irisan kewenangan dan perbedaan persyaratan antara Kementerian Perdagangan dan Badan Pengawas Obat dan Makanan dalam pengawasan makanan dalam kemasan. Penelitian ini menggunakan pendekatan pengambilan keputusan multi kriteria dengan mengintegrasikan metode Fuzzy Analytic Hierarchy Process (FAHP) dan Fuzzy Technique for Order Preference by Similarity to Ideal Solution (FTOPSIS). FAHP digunakan untuk menentukan bobot kriteria berdasarkan penilaian 18 pakar dari Kementerian Perdagangan dan BPOM, sedangkan FTOPSIS digunakan untuk menentukan peringkat prioritas pengawasan terhadap 10 alternatif perusahaan sebagai data uji model.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kriteria produk memiliki bobot lebih besar, yaitu 0,5946, dibandingkan kriteria perusahaan sebesar 0,4054. Pada tingkat sub-kriteria, kualitas produk memiliki bobot global tertinggi sebesar 0,2454, diikuti oleh kuantitas produk sebesar 0,1572 dan pelabelan produk sebesar 0,1263. Hasil pemeringkatan menunjukkan bahwa alternatif perusahaan A7, A10, dan A3 menjadi prioritas utama dalam kegiatan pengawasan. Selain itu, penelitian ini juga menambahkan kriteria viral dan komoditas prioritas sebagai mekanisme intervensi kebijakan untuk merespons kondisi tertentu yang membutuhkan pengawasan segera. Hasil analisis sensitivitas menunjukkan bahwa model tetap stabil terhadap perubahan bobot kriteria hingga ±20%. Dengan demikian, model yang dikembangkan dapat digunakan sebagai alat bantu pengambilan keputusan untuk mendukung pengawasan makanan dalam kemasan yang lebih objektif, terstruktur, dan berbasis risiko.
Perpustakaan Digital ITB