Kecelakaan Kerja dan Penyakit Akibat Kerja masih menjadi permasalahan utama
ketenagakerjaan global, dengan 2,93 juta kematian tercatat setiap tahun. Di
Indonesia, sistem pelaporan Kecelakaan Kerja dan Penyakit Akibat Kerja saat ini
terfragmentasi dan mengandalkan isian teks bebas yang tidak terstandardisasi,
sehingga Kementerian Ketenagakerjaan belum memiliki akses data rutin dan andal
untuk pengawasan berbasis bukti.
Penelitian menggabungkan pendekatan Business Process Management dengan
analisis tematik terhadap wawancara mendalam dua puluh enam informan dari lima
kelompok pemangku kepentingan, yang disintesis menjadi tujuh tema dan dua
puluh Customer Need. Temuan ini mendasari tiga rancangan utama. Pertama,
redesain alur pelaporan dengan dua titik integrasi otomatis antara BPJS
Ketenagakerjaan dan Kementerian Ketenagakerjaan, yaitu notifikasi dini yang
dikirimkan segera setelah verifikasi kepesertaan untuk suatu kasus, dan pengiriman
data final untuk seluruh kasus setelah klaim santunan selesai diproses. Kedua,
redesain Formulir Kecelakaan Kerja dan Penyakit Akibat Kerja, mengubah dua
belas variabel dari isian bebas menjadi klasifikasi terstandardisasi mengacu
Occupational Injury and Illness Classification System dan International
Classification of Diseases edisi kesebelas, disertai penambahan variabel klasifikasi
bahaya dan variabel klinis yang sebelumnya tidak tersedia. Ketiga, dashboard
surveillance berbasis dua puluh tujuh komponen indikator, mencakup indikator
kinerja agregat, distribusi faktor risiko, dan lainnya.
Rancangan usulan mengeliminasi duplikasi input data pada dua titik pencatatan,
yaitu pelaporan awal dan penutupan kasus, serta menghasilkan data terstandardisasi
untuk analisis risiko lintas sektor. Validasi kepada narasumber ahli Kementerian
Ketenagakerjaan mengonfirmasi kelayakan rancangan tanpa penolakan mendasar.
Perpustakaan Digital ITB