PERANCANGAN INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH (IPAL) DOMESTIK DAN INSTALASI PENGOLAHAN LUMPUR TINJA (IPLT) TERPUSAT KAYU MANIS KOTA BOGOR
Terbatas Maman Ruhiman
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Maman Ruhiman
» Gedung UPT Perpustakaan
Pemerintah Indonesia menempatkan sektor sanitasi sebagai prioritas nasional dalam RPJMN 2025–2029 dengan target akses sanitasi aman sebesar 30%. Meskipun Kota Bogor telah mendeklarasikan status Open Defecation Free (ODF), capaian sanitasi layaknya baru mencapai 78,4% dan sanitasi aman hanya sebesar 6,2%. Angka tersebut masih di bawah target RPJMD Kota Bogor (7,12%) dan RPJMN nasional, dengan cakupan Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik Terpusat (SPALD-T) yang baru melayani sekitar 3% penduduk. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, perancangan IPAL Terpusat Kayu Manis yang berlokasi di Kelurahan Kayumanis, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor, dihadirkan sebagai solusi teknis guna mengolah air limbah agar hasil olahan yang dibuang memenuhi baku mutu Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 11 Tahun 2025. Metodologi perancangan ini menggunakan pendekatan kombinasi (mixed methods) yang memadukan analisis kuantitatif dan kualitatif secara sistematis. Pendekatan kuantitatif diterapkan dalam proyeksi pertumbuhan penduduk, estimasi timbulan air limbah, penentuan debit desain, hingga perhitungan dimensi dan profil hidrolis unit pengolahan. Sementara itu, pendekatan kualitatif dilakukan melalui studi literatur, pengkajian regulasi, serta wawancara dengan Dinas PUPR Kota Bogor untuk memahami keadaan aktual. Perancangan IPAL Kayu Manis memanfaatkan lahan seluas ±25.000 m2 milik Pemerintah Kota Bogor. Sistem pelayanan direncanakan melayani Zona 1 dalam dua tahap periode perencanaan (2030–2050). Tahap 1 (2030–2040) melayani Kecamatan Tanah Sareal dan Bogor Tengah, sedangkan Tahap 2 (2040–2050) mencakup perluasan ke Kecamatan Bogor Barat. Dengan asumsi konsumsi air bersih sebesar 160 L/orang/hari (kategori kota metropolitan) dan tingkat pelayanan mencapai 61.000 Sambungan Rumah (SR) atau setara 305.000 jiwa pada tahun 2050, proyeksi debit desain diperoleh sebesar 48.524 m3/hari. Setelah memperhitungkan aliran supernatan dari unit pengolahan lumpur dan aliran backwash unit daur ulang, debit rata-rata total pengolahan meningkat menjadi 51.298 m3/hari. Dengan penerapan faktor puncak berdasarkan metode Babbitt, debit puncak total yang dirancang mencapai 81.698 m3/hari. Pemilihan alternatif teknologi pengolahan dilakukan secara selektif berdasarkan empat kriteria utama, yaitu efisiensi penggunaan luas lahan, kemudahan operasional dan pemeliharaan (O&M), jejak lingkungan, serta biaya O&M. Mengingat lokasi IPAL berbatasan langsung dengan area permukiman warga dan memiliki keterbatasan lahan, teknologi yang dipilih diarahkan pada sistem yang kompak, andal, hemat energi, serta rendah emisi. Berdasarkan hasil evaluasi kriteria tersebut, ditetapkan konfigurasi sistem pengolahan terpilih sebagai berikut: 2 unit Bar Screen mekanis pada Tahap 1 (menjadi 4 unit di Tahap 2) berdimensi 5,1 m×0,5 m×1,3 m untuk menyisihkan padatan kasar dan sampah; 2 unit Vortex Grit Chamber pada Tahap 1 (menjadi 4 unit di Tahap 2) dengan diameter atas 2,05 m dan kedalaman total 3,7 m yang memanfaatkan gaya sentrifugal untuk memisahkan pasir; Bak Ekualisasi berdimensi 19,3 m × 13,8 m × 5 m (2 unit di Tahap 1 dan 4 unit di Tahap 2) untuk mereduksi fluktuasi debit; Bak Sedimentasi Primer Konvensional berdimensi 33 m × 8,2 m× 4 m (2 unit di Tahap 1 dan 4 unit di Tahap 2); Moving Bed Biofilm Reactor (MBBR) yang disusun secara seri, mencakup Bak Pra-Anoksik (18,8 m × 12,6 m) untuk proses denitrifikasi dan Bak Aerobik (10,7 m × 12,6 m) untuk penyisihan BOD serta nitrifikasi (2 unit di Tahap 1 dan 4 unit di Tahap 2); Bak Sedimentasi Sekunder yang dilengkapi Inclined Plate Settler 60? berdimensi 19,8 m × 4,5 m× 4,5 m (2 unit di Tahap 1 dan 4 unit di Tahap 2); Bak Disinfeksi Klorin (NaOCl) dengan panjang lintasan 30 m dan kedalaman 2 m untuk menginaktivasi fecal coliform sebelum dibuang ke badan air. Biaya pembangunan (CAPEX) Tahap 1 memerlukan dana sebesar Rp42.301.828.000, yang mencakup penyelesaian seluruh pekerjaan tanah, struktur sipil/beton, dan jaringan perpipaan untuk kapasitas akhir 2050, serta pengadaan peralatan mekanikal-elektrikal awal. Biaya CAPEX Tahap 2 memerlukan dana sebesar Rp15.664.460.000 yang dialokasikan khusus untuk penambahan unit mekanikal dan elektrikal saat dilakukan ekspansi kapasitas. Sementara itu, biaya operasional dan pemeliharaan (OPEX) dihitung sebesar Rp379.400.000 per bulan pada Tahap 1 dan meningkat menjadi Rp874.189.000 per bulan pada Tahap 2. Berdasarkan analisis kelayakan finansial dan ekonomi, ditetapkan tarif retribusi sebesar Rp1.300/m³ yang terbukti layak, ditunjukkan oleh nilai Net Present Value (NPV) sebesar Rp3.963.903.110 (> 0), Benefit-Cost Ratio (BCR) sebesar 1,04 (> 1), Internal Rate of Return (IRR) sebesar 6,53% (> suku bunga acuan BI-Rate 5,75%), serta Payback Period (PP) yang tercapai pada tahun ke-14 sejak beroperasi.
Perpustakaan Digital ITB